KONTEKS.CO.ID - Perkumpulan Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia menyoroti keterlibatan tiga bank badan usaha milik negara (BUMN) dalam pembiayaan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Sumatra Utara.
Temuan tersebut disampaikan Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia, Abdul Haris, dalam konferensi pers daring yang digelar pada Senin, awal pekan ini.
Haris menjelaskan, hasil pemetaan terhadap 20 bank dengan nilai pinjaman terbesar kepada perusahaan-perusahaan di Sumatra Utara menunjukkan bahwa perbankan asal China masih mendominasi pembiayaan.
Namun, bank-bank milik negara Indonesia berada di posisi kedua sebagai pemberi pinjaman terbesar.
“Dari pembiayaan atau 20 ranking bank ini, terdapat tiga bank utama di Indonesia atau tiga bank BUMN, yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI,” kata Haris.
Ia menyebut Bank Mandiri menjadi lembaga keuangan nasional dengan nilai pembiayaan terbesar kepada perusahaan yang beroperasi di wilayah Sumatra Utara.
Baca Juga: Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Semarang, Sopir Mengantuk Harus Jadi Kewaspadaan
“Bank Mandiri menjadi bank terbesar yang membiayai perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Sumatra Utara, dengan nilai pembiayaan sekitar USD3 juta (sekitar Rp50,3 miliar),” ujar Haris.
Menurutnya, keterlibatan bank-bank BUMN tersebut menjadi sorotan karena bertentangan dengan komitmen yang selama ini disampaikan ke publik.
Hal itu terkait penerapan prinsip keuangan berkelanjutan dan pembiayaan hijau.
Baca Juga: Santunan Korban Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Semarang: Meninggal Rp50 Juta, Luka Rp20 Juta
“Fakta yang terjadi di Sumatra justru membuktikan sebaliknya. Kerusakan lingkungan hidup memiliki korelasi yang sangat kuat dengan pembiayaan perbankan,” ujarnya.
TuK Indonesia menegaskan, aktivitas pembiayaan oleh perbankan tidak bisa dipandang semata sebagai urusan bisnis.