Tanah-tanah tersebut terdiri dari gabungan antara tanah desa dan Sultan Ground, yang masing-masing mencakup lebih dari 250 bidang tanah secara keseluruhan.
Baca Juga: Garuda Indonesia Buka Rute Jakarta-Samarinda Mulai Awal Agustus, Ada Promo Tiket untuk 162 Penumpang
Roy menjelaskan, kedua proyek jalan tol ini memiliki peran vital dalam pengembangan infrastruktur regional.
"Tol ini akan membuka akses cepat antara wilayah selatan Jawa, meningkatkan efisiensi logistik, dan memperkuat integrasi ekonomi antara Yogyakarta, Solo, dan Semarang,” ujarnya.
Hingga kini, proses pembebasan lahan dan pematangan proyek terus berjalan. BUJT juga tengah mempersiapkan proses tender pembangunan fisik di beberapa seksi yang telah clear and clean dari sisi perizinan maupun lahan.
Meski sempat menuai perdebatan di ruang publik terkait legalitas dan keadilan penggunaan tanah adat untuk proyek komersial, pemerintah menjamin bahwa seluruh proses dijalankan secara transparan dan sesuai peraturan.
Kementerian PUPR pun menegaskan bahwa kerja sama ini dilakukan dengan prinsip saling menguntungkan.
“Pemerintah daerah, Kesultanan, dan masyarakat akan mendapat manfaat dari konektivitas yang ditingkatkan, sementara BUJT juga mendapatkan kepastian hukum untuk melaksanakan investasi jangka panjang,” ujar Roy.
Tol Yogyakarta-Bawen dan Solo-Yogyakarta-Kulon Progo ditargetkan rampung secara bertahap mulai 2026 mendatang, dan diharapkan dapat memangkas waktu tempuh hingga separuh dari kondisi jalan eksisting. ***