nasional

Petani Keluhkan Sulit Jual Gabah ke Bulog, Mentan Amran Sebut Ada Celah Mafia

Senin, 21 April 2025 | 13:08 WIB
Pengamat Pertanian AEPI, Khudori (kiri) dan Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman (kanan) bahas soal bulog dan mafia (YouTube.com / Q&A METRO TV)

KONTEKS.CO.ID - Para petani di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengeluhkan harga gabahnya sulit dijual ke Badan Urusan Logistik (Bulog).

Diketahui, harga jual gabah petani di Kalsel hanya Rp5.000 per kilogram (kg), jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) senilai Rp6.500 per kg.

Hal tersebut mendapat perhatian khusus dari Pengamat Pertanian AEPI (Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori.

Baca Juga: Cerita Pahit Keturunan Keluarga Kartini, Ada yang Jadi Tukang Ojek

Saat momen perbincangan langsung dengan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, Khudori menyebut para petani setempat bahkan kesulitan berhubungan dengan Bulog.

"Tanggal 18 Maret 2025 kemarin, Bapak (Amran) ke Tanah Laut, ke Kalsel (Kalimantan Selatan)?" tanya Khudori ke Amran sebagaimana dilansir dari program televisi Q&A METRO TV, pada Senin, 21 April 2025.

"Dan menemukan ada keluhan dari petani yang kesulitan untuk berhubungan dengan Bulog untuk menjual gabahnya ke Bulog," sambungnya.

Baca Juga: Detik-Detik Mobil Nissan Grand Livina Tertabrak KRL di Bogor, Diduga Slip di Rel yang Sedang Diperbaiki

Pengamat Pertanian itu kemudian menyoroti Amran yang mengurus Bulog, padahal menurutnya hal itu bukan urusan pihak Kementerian Pertanian.

"Nah, pertanyaan publik, Pak, Bulog itu bukan otoritasnya menteri pertanian, urusan pasar juga bukan urusan Kementerian Pertanian. Bisa dijelaskan?" tutur Khudori.

Menjawab hal itu, Amran mengeklaim pihaknya mendengar langsung perintah Presiden Prabowo Subianto terkait sistem kolaborasi di pemerintahannya.

Baca Juga: Twibbon Hari Kartini: Rayakan Semangat Emansipasi dengan Cara Kekinian

"Visi presiden kita (Prabowo), kita dibawa kolaborasi. Sukses tidak bisa sendirian, harus kolaborasi semua pihak," terangnya.

Amran juga mengeklaim produksi beras dan stoknya yang tinggi membuat celah tersendiri yang kerap dimanfaatkan oknum mafia pertanian.

Halaman:

Tags

Terkini