• Sabtu, 18 April 2026

BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Akhir Januari, Warga Diminta Siaga Bencana

Photo Author
Eko Priliawito, Konteks.co.id
- Rabu, 21 Januari 2026 | 08:55 WIB
BMKG meminta masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Bakung. (Foto: Humas Polda NTT)
BMKG meminta masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Bakung. (Foto: Humas Polda NTT)

KONTEKS.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Sementara berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, terjadi gangguan atmosfer yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan hujan lebat, banjir, tanah longsor, hingga gangguan pada sektor transportasi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari. Dengan kesiapsiagaan dan memantau informasi resmi BMKG, risiko bencana dapat diminimalkan,” ujar Faisal di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026. 

Baca Juga: Siap-siap, Ada Rekrutmen CPNS Guru 2026: Simak Cara Pendaftaran Formasi, Jadwal, dan Syarat Wajibnya

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, terdapat sejumlah faktor atmosfer yang memengaruhi kondisi cuaca dalam sepekan ke depan. 

Salah satunya adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara sekitar 1001 hPa.

“Pergerakan sistem 97S ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, sehingga meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” kata Andri.

Selain itu, Monsun Asia terpantau menguat hingga 23 Januari 2026, disertai dengan seruakan dingin (cold surge) dari daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan mendorong pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.

Baca Juga: Efisiensi APBN Berlanjut di 2026, Harga Pertalite Bisa Naik

BMKG juga mencatat aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Gelombang Kelvin, yang diperkuat oleh nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif. 

Kombinasi tersebut memperbesar peluang terbentuknya awan Cumulonimbus, yang identik dengan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang.

Kondisi ini diperparah oleh tingginya kelembapan udara pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer serta labilitas atmosfer yang kuat. Faktor-faktor tersebut mendukung proses konvektif skala lokal dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di wilayah Indonesia bagian selatan.

BMKG memprakirakan, potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang akan terjadi secara bergantian di berbagai wilayah. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Eko Priliawito

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X