• Sabtu, 18 April 2026

Redam Kegelisahan Publik, Analis Rekomendasikan Prabowo Sering Bicara ke Media Bukan Influencer

Photo Author
Iqbal Marsya, Konteks.co.id
- Minggu, 31 Agustus 2025 | 23:37 WIB
Presiden Prabowo Subianto diminta berkomunikasi lebih intens dengan media untuk meredam kegelisahan publik. (BPMI Setpres RI)
Presiden Prabowo Subianto diminta berkomunikasi lebih intens dengan media untuk meredam kegelisahan publik. (BPMI Setpres RI)

KONTEKS.CO.IDPresiden Prabowo Subianto dinilai perlu lebih sering berbicara langsung melalui media massa daripada influencer guna meredakan kegelisahan publik.

Rekomendasi itu disampaikan analis komunikasi politi, Dr Hendri Satrio atau Hensa. Pertimbangannya adalah, media masih memegang peran penting sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Intensitas komunikasi yang kuat di antara keduanya diyakini bisa membuat pesan pemerintah lebih mudah rakyat pahami.

Baca Juga: Polda Metro Jaya - TNI Patroli Besar-besaran Amankan Jakarta: Rantis, Motor Trail, Ribuan Personel Keluar Semua 

“Saya ngajuin dualah solusinya. Jadi yang pertama, Pak Prabowo mesti berkomunikasi dengan intens kepada para jurnalis di media massa. Karena dengan kondisi saat ini, media massa lah yang bisa menenangkan masyarakat ya, menenangkan rakyat,” katanya, mengutip Minggu 31 Agustus 2025.

Tak segang ia menyoal, sejak era Presiden Joko Widodo hingga kini, media massa kerap terpinggirkan dari lingkaran kekuasaan. Padahal media memiliki peran strategis menjembatani pemerintah dengan rakyat.

“Selama ini kan memang penguasa ya dari zaman Pak Jokowi (influenxer). Kemudian sekarang diteruskan ke Pak Prabowo, seolah-olah seperti melupakan media massa sebagai kekuatan,” kata pendiri Lembaga Survei KedaiKopi itu mengingatkan.

Baca Juga: Tok! Jagoan Manchester United, Alejandro GarnachoJadi Rekrutan Kesembilan Chelsea Musim Panas 2025 

Ditegaskan Hensa, langkah komunikasi yang lebih terbuka dengan media adalah kunci penting guna meredakan ketegangan publik. Sekaligus menjaga legitimasi kepemimpinan nasional.

Sebuah survei Indonesian Presidential Studies (IPS) UGM pada 2022 juga memperkuat pandangan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan 74,4% publik masih lebih percaya kepada media formal seperti TV, radio, dan koran.

Persentase yang jauh lebih tinggi dibanding media sosial yang hanya meraih kepercayaan 12,7 persen. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Iqbal Marsya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X