KONTEKS.CO.ID - Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga 31 Maret 2025 mengalami defisit Rp104,2 triliun atau setara 0,43 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini terjadi karena total belanja negara telah mencapai Rp620,3 triliun, sementara pendapatan yang berhasil dikumpulkan baru Rp516,1 triliun.
Pada Maret 2025 saja, pendapatan negara tercatat Rp200 triliun.
Secara kumulatif, pendapatan negara pada kuartal pertama mencapai 17,2 persen dari target tahunan dalam APBN 2025.
Pendapatan negara tersebut terdiri dari penerimaan pajak Rp322,6 triliun (14,7 persen dari target), penerimaan kepabeanan dan cukai Rp77,5 triliun (25,7 persen dari target), serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp115,9 triliun (22,6 persen dari target).
Sementara, dari sisi pengeluaran, belanja negara per akhir Maret 2025 telah mencapai Rp620,3 triliun atau 17,1 persen dari pagu APBN.
Jumlah tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 413,2 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp 207,1 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan defisit yang terjadi masih berada dalam koridor desain APBN 2025, yang menargetkan defisit sebesar Rp 616,2 triliun atau 2,53 persen terhadap PDB.
Ia juga menyampaikan bahwa dari sisi keseimbangan primer, posisi APBN masih mencatat surplus Rp17,5 triliun.***
Artikel Terkait
Prabowo Gelar Rapat Soal APBN 2026 di Istana Bareng Sri Mulyani hingga Airlangga Hartarto
Menkeu Sri Mulyani Yakin APBN Tetap Terkendali Meski Defisit Rp104 Triliun