KONTEKS.CO.ID - Indonesia berencana mengusulkan peningkatan impor minyak mentah dan gas petroleum cair (LPG) dari Amerika Serikat sebesar sekitar USD10 miliar atau Rp168,4 triliun.
Indonesia juga akan mengurangi impor dari negara lain sebagai bagian dari negosiasi tarifnya. Demikian dikatakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seperti dikutip dari The Daily Live.
Laporan Reuters mengutip data Kpler yang menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor 217.000 barel per hari (bph) LPG tahun lalu, dengan sekitar 124.000 bph berasal dari AS.
Indonesia juga mengimpor sekitar 306.000 bph minyak mentah pada tahun yang sama, dengan Nigeria, Arab Saudi, dan Angola sebagai pemasok utama, menurut data Kpler. Sekitar 13.000 bph berasal dari AS.
Sekitar 23.000 bph diimpor dari Qatar, sementara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi masing-masing menyumbang sekitar 20.000 bph.
Secara total, Indonesia berencana membeli barang dari AS senilai USD18-19 miliar dalam upaya menghilangkan surplus perdagangannya dengan AS dan menghindari ancaman tarif 32 persen atas ekspornya.
Bahlil menyatakan Kementerian ESDM merekomendasikan peningkatan kuota impor LPG dari AS, serta peningkatan impor minyak mentah AS, guna membantu mencapai target tersebut.
Guna memberi ruang, Indonesia perlu mengurangi impor LPG dari negara lain, begitu kata Direktur Eksekutif lembaga think tank Energy Shift Institute, Putra Adhiguna.
Ia menambahkan bahwa pengurangan bisa dimulai dari 20 hingga 30 persen dari impor LPG non-AS, tergantung kontrak yang ada.
Saat ditanya soal usulan impor LPG dari AS, juru bicara Pertamina menyampaikan kepada Reuters bahwa pihaknya sedang meninjau ulang impor mereka dan menunggu arahan dari pemerintah.***
Artikel Terkait
Kejagung Ungkap Peran 2 Tersangka Baru di Kasus Impor Minyak Mentah Pertamina Patra Niaga
AS Gerakkan Senjata Ekonomi Lagi, Siap Hantam Negara yang Impor Minyak Venezuela!