Menurut laporan CNN, kedua kata dalam nama tersebut memiliki akar historis yang kuat.
Epic berasal dari tradisi seni dan sastra klasik, dan dalam penggunaan modern menggambarkan sesuatu yang berskala besar atau monumental.
Sementara fury, menurut ahli bahasa Grant Barrett, berakar pada mitologi Yunani dan Romawi.
Hal itu mengacu pada dewi-dewi pembalasan dan kalau ditarik dalam terminologi modern identik dengan kemarahan atau hasrat yang meluap.
Meski terdengar puitis, penamaan operasi militer tidak dilakukan secara sembarangan. Department of Defense AS menggunakan sistem khusus bernama NICKA (Code Word, Nickname, and Exercise Term System).
Sistem itu untuk mengajukan, menyortir, dan menyetujui nama kode operasi.
Sistem ini memastikan tidak ada duplikasi serta membantu mengelola daftar nama yang sudah digunakan.
Proses penentuannya juga melibatkan beberapa tingkatan komando.
Unit-unit militer mengusulkan nama yang biasanya terdiri dari dua kata, mengikuti pedoman tertentu seperti awalan huruf.
Selanjutnya, pemimpin senior memilih nama yang dinilai paling sesuai.
Baca Juga: Vespa Kongo, Jejak Keberanian Pasukan Garuda di Jalan Perdamaian Dunia
Di sejumlah kasus, nama yang dipilih bukan soal kerahasiaan, tetapi lebih kepada pesan moral dan simbolisme yang ingin ditekankan.