ekonomi

BI Yakin Inflasi Terkendali, Dorong Penyaluran Kredit Perbankan Lebih Cepat

Rabu, 17 September 2025 | 19:56 WIB
BI Catat Uang Beredar Naik 6,5 Persen Juli 2025, Benarkah Ekonomi RI Kian Stabil Meski Kredit Melambat? (Freepik/wirestock)

KONTEKS.CO.ID - Bank Indonesia (BI) menegaskan tekanan inflasi tetap rendah dan terkendali.

Hal itu sekaligus mendorong perbankan untuk mempercepat penyaluran kredit guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2025 tercatat 2,31% (yoy), berada dalam sasaran 2,5±1%.

Baca Juga: TelkoMedika Raih 2 Penghargaan TOP GRC Awards tahun 2025

Inflasi inti turun menjadi 2,17% (yoy) seiring kapasitas ekonomi yang masih longgar, imported inflation yang rendah, dan konsistensi kebijakan moneter BI.

Sementara, inflasi administered prices (AP) hanya 1,00% (yoy), meski inflasi kelompok volatile food (VF) naik menjadi 4,47% akibat kenaikan harga beras pascapanen raya.

"Dengan kondisi inflasi yang terjaga, BI melihat ruang lebih besar untuk mendorong penyaluran kredit agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih kuat,” begitu petikan pernyataan dari Dewan Gubernur BI dalam rilis pada Rabu 17 September 2025.

Baca Juga: Sarah Sadiqa Jadi Kepala LKPP, Pemerintah Tegaskan Komitmen Reformasi Pengadaan

Namun, penyaluran kredit perbankan hingga Agustus 2025 dinilai masih belum optimal.

Kredit tumbuh 7,56% (yoy), meningkat dibanding Juli, tetapi masih di bawah kapasitas.

Rendahnya penyaluran dipengaruhi sikap wait and see pelaku usaha, masih tingginya suku bunga kredit, serta tingginya rasio undisbursed loan yang mencapai Rp2.372,11 triliun atau 22,71% dari plafon kredit.

Baca Juga: Aksi Demo Ojol Tak Sia-sia! Presiden Prabowo Akan Teken Perpres yang Batasi Potongan Aplikator Maksimal 10 Persen

Bank Indonesia menilai perlu percepatan penurunan suku bunga deposito dan kredit.

Hal itu agar insentif likuiditas yang telah diberikan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dapat segera tersalurkan ke sektor-sektor produktif.

Halaman:

Tags

Terkini