ekonomi

Analis Strategi Institute: Anjloknya IHSG Dampak Warisan Pemerintahan Jokowi yang Rapuhkan Pondasi Ekonomi  

Rabu, 19 Maret 2025 | 22:15 WIB
Anali Strategi Institute sebut ambruknya IHSG warisan pemerintahan Jokowi (Foto: Freepik/wirestock)

 

KONTEKS.CO.ID - Anjloknya IHSG yang signifikan pada Selasa, 18 Maret 2025 berpotensi terulang kembali dan menandakan rapuhnya struktur pasar modal Indonesia.

Faktor eksternal yang selama ini diasumsikan sebagai pendorong sentimen utama indeks saham, terpatahkan oleh ambruknya IHSG dimana bursa regional mengalami kenaikan.

Kejatuhan IHSG merupakan anomali yang menandakan resiliensi ekonomi Indonesia. Terlebih dunia akan mengalami global uncertainty, yang berdampak langsung ke Indonesia.

Baca Juga: Nunung Tolak Bantuan Tinggal di Rumah Sule, Ungkap Rey Utami Tawarkan Bantuan Serupa

Menurut analis Strategi Institute Fauzan Luthsa, kejatuhan IHSG merupakan wake up call atas situasi perekonomian nasional.

Dia mengungkapkan sejumlah alasannya. Pertama, masalah utama ekonomi saat ini adalah warisan dari pemerintahan Jokowi yang merapuhkan tatanan ekonomi Pancasila dan pro masyarakat.

"Selama sepuluh tahun belakangan ekonomi kita sepenuhnya di tangan oligarki dalam seluruh aspek. Jadi siapapun presidennya, warisan masalahnya akan seperti sekarang ini. Tinggal kita lihat apakah Prabowonomics yang pro negara kesejahteraan akan mampu menggeser tatanan ekonomi lama,” ujar Fauzan kepada Konteks, Rabu 19 Maret 2025.

Baca Juga: Sule Tawarkan Nunung Tinggal di Rumahnya di Cibubur: Listrik Dibayar Hingga Perabotan Disiapkan

Kedua, ini menunjukkan pasar modal nasional rentan dan dibutuhkan terobosan luar biasa untuk memperbaikinya, mengingat IHSG bisa dikatakan sebagai barometer perekonomian nasional.

Fauzan lantas mengusulkan reformasi struktur pasar modal agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

“Diversifikasi skala emiten yang akan IPO, harus imbang antara jumlah emiten jumbo dan emiten menengah. Serta tata kelola emiten jumbo yang juga akan IPO, tidak bisa lagi Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya mengejar volume kapitalisasi pasar. Diversifikasi dan upgrading kualitas calon emiten, kita bisa mulai dari sana,” terangnya.

Baca Juga: Soal RUU TNI, Mahfud MD Ungkap Diskusi Usia Pensiun TNI dengan Prabowo dan Bandingkan dengan Amerika Serikat

Dia menjelaskan, diversifikasi skala emiten akan membuat postur pasar modal menjadi lebih stabil karena ada perimbangan komposisi emiten jumbo dan menengah,

Halaman:

Tags

Terkini