Sementara, konflik Iran menambah tekanan pada rantai pasok. Indonesia yang bergantung pada impor sulfur dari Timur Tengah kini menghadapi risiko gangguan pasokan.
Laporan Reuters menyebut sejumlah smelter nikel di Indonesia bahkan telah memangkas produksi hingga 10 persen akibat kekurangan bahan baku.
“Gangguan pasokan sulfur dapat meningkatkan biaya produksi dan menahan pertumbuhan output nikel,” tulis laporan tersebut.
Meski demikian, dalam jangka panjang, prospek harga masih cenderung menguat.
BMI memperkirakan harga nikel bisa mencapai USD19 ribu per ton pada 2030, bahkan menembus USD22 ribu saat pasar berbalik defisit pada 2032.***
Artikel Terkait
Kuota Produksi Indonesia Bisa Dorong Pasar Nikel Global ke Defisit
Harga Nikel secara Global Berpotensi Naik karena Produksi yang Tertahan
Nikel Jadi Mesin Revolusi Kendaraan Listrik Dunia, Indonesia Bidik Kendali Industri Masa Depan
Dibalik Gemerlap Industri Kendaraan Listrik, Warga Halmahera Menanggung Harga Mahal dari Ledakan Nikel