• Sabtu, 18 April 2026

Rombongan Jarang Beli di Pusat Perbelanjaan Disebut hanya Sementara

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Minggu, 27 Juli 2025 | 13:29 WIB
Shopee membagikan kode potongan harga belanja online. Foto: Retail Learning
Shopee membagikan kode potongan harga belanja online. Foto: Retail Learning

KONTEKS.CO.ID - Para pelaku usaha pusat perbelanjaan menilai bahwa tren "Rojali" (rombongan jarang beli) dan "Rohana" (rombongan hanya nanya-nanya) yang belakangan ramai di media sosial hanyalah gejala sementara.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja, dalam wawancara yang didengarkan di RRI Pro 3 pada Minggu 27 Juli 2025.

Kedua istilah yang sedang viral tersebut mencerminkan kebiasaan masyarakat yang datang ke mal dalam kelompok, namun hanya melihat-lihat tanpa membeli apa pun.

Menurut Alphonsus, perilaku tersebut bukan sesuatu yang baru, melainkan cerminan situasi ekonomi tertentu.

Baca Juga: INABUYER B2B2G Expo 2025 Perbesar Belanja Produk UMKM, Nilai Potensi Kerja Sama Capai Rp2,1 Triliun

"Ini adalah pola yang muncul ketika daya beli menurun, dan biasanya tidak berlangsung lama," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini juga bertepatan dengan musim sepi belanja (low season), yang tahun ini lebih panjang karena bulan Ramadan dan Idulfitri datang lebih awal dari biasanya.

Alphonsus menyarankan agar pengelola mal tidak perlu terlalu khawatir dengan fenomena ini ataupun bersaing langsung dengan platform e-commerce.

Ia menilai bahwa layanan belanja daring bukan ancaman, melainkan pelengkap bagi sektor ritel konvensional.

Baca Juga: Liburan Panjang? Yuk Gaskeun ke Jakarta Fair 2025, Surga Belanja, Jajan, dan Konser Seru Sekeluarga!

"Mal sebaiknya menekankan pada keunggulan yang tidak bisa ditawarkan oleh sistem online, seperti pengalaman langsung dan interaksi sosial," kata Alphonsus.

Menurutnya, pengalaman berbelanja secara fisik (customer experience) tetap menjadi nilai lebih yang ditawarkan pusat perbelanjaan modern.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah mal kini tergantung pada kemampuannya menciptakan suasana yang unik dan mendorong keterlibatan sosial.

Apalagi, di tengah minimnya ruang publik, mal telah menjadi salah satu tempat utama masyarakat untuk bersosialisasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X