KONTEKS.CO.ID - Neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus hingga April 2025.
Dengan demikian, Indonesia telah menikmati surplus perdagangan selama 60 bulan atau lima tahun tanpa henti sejak Mei 2020.
"Surplus neraca perdagangan April 2025 mencapai USD160 juta atau Rp2,56 triliun," ungkap Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, Senin, 2 Juni 2025.
"Secara kumulatif Januari hingga April 2025, total surplus mencapai USD11,07 miliar."
Surplus ini naik sebesar USD950 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut didorong nilai ekspor yang masih lebih besar dibandingkan dengan impor.
Ekspor Indonesia hingga April 2025 tercatat USD87,36 miliar, naik 6,65 persen dibanding tahun lalu.
Baca Juga: Ekspor Lesu, Surplus Neraca Dagang Indonesia Mei 2024 Diprediksi Merosot
Sementara impor mencapai USD76,29 miliar, meningkat 6,27 persen dari periode yang sama 2024.
Peningkatan ekspor terutama berasal dari sektor industri pengolahan, dengan nilai mencapai USD68,84 miliar atau naik 16,08 persen.
Komoditas ekspor terbesar adalah besi dan baja (USD8,81 miliar), serta minyak sawit dan turunannya (USD7,05 miliar).
Baca Juga: Target Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai USD43 Miliar pada 2025
Meski demikian, tidak semua komoditas unggulan mencatat pertumbuhan. Ekspor batubara justru turun 19,74 persen menjadi USD8,17 miliar.
Di sisi impor, komoditas nonmigas terbesar adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.
Artikel Terkait
Indonesia Anti Resesi, Neraca Dagang Surplus 29 Bulan Berturut Turut
Vietnam-Thailand Waspadalah! Indonesia Mau Ekspor Beras ke Malaysia
Ekspor Batu Bara Indonesia Turun 11 Juta Ton pada Kuartal I 2025