Muhammad Diramku, pemimpin suku Arab, mendirikan Kerajaan Hormuz di pesisir Iran setelah berpindah dari Oman.
Baca Juga: Pemerintah Batal Bangun Rusun, Kini Embuskan Janji Baru Bagi 324 KK Warga Bantaran Rel Senen
Memasuki abad ke-15, kawasan ini menjelma menjadi pusat perdagangan internasional.
Pedagang dari berbagai wilayah Jawa, China, Mesir hingga Bengal berkumpul di pelabuhannya.
Tokoh-tokoh seperti Marco Polo dan Laksamana Zheng He pun pernah singgah.
Baca Juga: Penjelasan PSSI soal Duduk Perkara Paspor Pemain Timnas Indonesia di Kompetisi Eredivisie Belanda
Dominasi kekuatan Eropa mulai terasa ketika Alfonso de Albuquerque memimpin pasukan Portugis merebut wilayah tersebut.
Namun keberadaan Portugis tak berlangsung selamanya karena pada 1622, Shah Abbas I dari Persia merebut kembali Hormuz dengan bantuan armada Inggris.
Memasuki abad ke-20, ketegangan tetap menjadi warna utama kawasan ini.
Inggris pernah memberlakukan blokade pada 1951 sebagai respons terhadap kebijakan nasionalisasi minyak oleh PM Mohammad Mosaddegh.
Aksi tersebut berlangsung dua tahun dan turut melibatkan operasi intelijen CIA.
Selama perang Iran-Irak (1980–1988), Selat Hormuz menjadi medan perebutan strategis.
Sebanyak 546 kapal terkena serangan, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa.