KONTEKS.CO.ID - Malam turun di Alun-Alun Utara Yogyakarta, tapi dentuman gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo membuat udara tetap bergetar.
Ribuan orang berdesakan, aroma sate bercampur wangi kemenyan, dan cahaya lampu pasar malam membuat suasana semakin sakral. Itulah Sekaten 2025, hajad dalem yang bukan hanya pesta rakyat, tapi juga ritual penuh misteri.
Di balik gegap gempita, ada pertanyaan besar: bagaimana tradisi berusia lima abad ini bertahan di tengah gempuran hiburan digital dan pariwisata yang serba fluktuatif?
Baca Juga: Jejak Kerusuhan Politik di Indonesia dari Anarkisme Reformasi 1998 Hingga Demo Algoritma 2025
Jawabannya sederhana: Sekaten bukan sekadar tontonan, tapi simpul spiritual dan kultural.
“Sekaten itu bukan hanya pesta, tapi cara kita menjaga jati diri,” ujar seorang abdi dalem.
Sejarah dan Makna Gamelan Sekaten
Tradisi ini berakar pada dakwah Sunan Kalijaga di abad ke-15. Dengan menabuh gamelan ciptaannya, beliau mengajak orang bersyahadat.
Dari situlah istilah Sekaten dipercaya berasal dari kata syahadatain. Di era Mataram, gamelan pusaka dijadikan simbol legitimasi raja.
Baca Juga: 17 Plus 8 Tuntutan Rakyat Jadi Deadline, Demo SelamatkanIndonesia Guncang DPR 5 September 2025
Kini, dua gamelan sakral Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo hanya ditabuh setahun sekali di Masjid Gedhe Kauman.
Protokolnya ketat yaitu abdi dalem wajib berpuasa, posisi gong tak boleh bergeser seujung jari.
Tahun 2021, gamelan resmi masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, makin mengukuhkan posisinya sebagai warisan dunia.
Mitos Mistis: Gamelan Pemanggil Roh Leluhur
Kepercayaan masyarakat menegaskan jika suara gamelan Sekaten fals, itu pertanda bencana.
Artikel Terkait
Serem! Viral LC Pemandu Karaoke di Pasar Baru Kesurupan Massal saat Malam 1 Suro, Kental Nuansa Mistis
Wapres Gibran Soroti Kemenyan Jadi Rahasia Parfum Mewah Kelas Dunia, Bukan Sekadar Ritual Mistis!
Debut Horor di Film Sukma, Fedi Nuril Perankan Penderita Skizofrenia dengan Sentuhan Mistis
Brak! Tembok Masjid Gedhe Yogyakarta Roboh Dijejak Sultan HB X di Prosesi Sekaten 2025, Ribuan Warga Bersorak