• Sabtu, 18 April 2026

Brak! Tembok Masjid Gedhe Yogyakarta Roboh Dijejak Sultan HB X di Prosesi Sekaten 2025, Ribuan Warga Bersorak

Photo Author
Rat Nugra, Konteks.co.id
- Jumat, 5 September 2025 | 08:00 WIB
Sultan HB X robohkan tembok Masjid Gedhe di Sekaten 2025. (Instagram @kratonjogja)
Sultan HB X robohkan tembok Masjid Gedhe di Sekaten 2025. (Instagram @kratonjogja)

 

KONTEKS.CO.ID - “Brak!” sekali jejak kaki Sultan Hamengku Buwono X, tembok bata setinggi 1,5 meter di selatan Masjid Gedhe Yogyakarta langsung roboh.

Ribuan warga bersorak histeris menyaksikan momen langka itu dalam prosesi Sekaten 2025. Sebagian warga bahkan terlihat menangis haru menyaksikan ritual langka tersebut.

Tradisi yang hanya digelar delapan tahun sekali ini jadi bukti kuatnya ikatan Keraton dengan sejarah leluhur dan masyarakat Yogya.

Ribuan warga sudah memadati kompleks Masjid Gedhe sejak Kamis malam, 4 September 2025, demi menyaksikan prosesi kondur gongso yang menjadi bagian dari Hajad Dalem Sekaten.

Baca Juga: Demo Besar 5 September 2025 di DPR, Suarakan 17 Plus 8 Tuntutan Rakyat: Selamatkan Indonesia!

Prosesi Kondur Gongso dan Jejak Banon

Acara ini digelar Keraton Yogyakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi.

Salah satu prosesi yang paling ditunggu adalah jejak banon, ketika Sultan HB X merobohkan tumpukan batu bata sebagai simbol jejak sejarah Sultan HB I, pendiri Keraton.

Selepas pembacaan kisah Nabi di Masjid Gedhe sekitar pukul 22.00 WIB, Sultan yang mengenakan busana kebesaran dominan biru berjalan menuju gerbang selatan.

Baca Juga: MK Larang Wamen Rangkap Komisaris BUMN, Erick Thohir Angkat Suara soal 28 Nama yang Terancam Mundur

Prajurit bregada membentuk pagar betis membuka jalan di tengah lautan massa. Dalam hitungan detik, tembok bata yang dijejak Sultan roboh berantakan. Sorakan dan teriakan warga pun pecah, mengiringi langkah Sultan melewati reruntuhan.

Udhik-Udhik Jadi Rebutan

Selain prosesi jejak banon, ada juga momen penyebaran udhik-udhik atau uang koin oleh Sultan yang menjadi rebutan warga.

“Udhik-udhik ini melambangkan sedekah dari Raja untuk masyarakat dan tamu yang hadir,” kata KRT Kusumonengoro, Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Keraton.

Tradisi ini dipercaya sebagai simbol ngalap berkah, sehingga warga berebut mendapatkan koin tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rat Nugra

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X