KONTEKS.CO.ID - Ketegangan di Selat Hormuz kini jadi perhatian serius publik Tanah Air. Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di jalur energi paling vital dunia tersebut.
Di tengah ketidakpastian geopolitik antara Iran melawan AS dan Israel, muncul berbagai silang pendapat mengenai nasib armada BUMN ini.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menegaskan terus melakukan upaya diplomasi "pintu belakang" demi menjamin keselamatan kru dan kelancaran distribusi energi nasional.
Realita di Lapangan: Kapal Pertamina Masih Tertahan 40 Hari
Meski sempat ada kabar burung yang menyebut kapal Indonesia sudah melenggang bebas, nyatanya pemerintah mengonfirmasi proses perizinan masih alot.
Jubir Kemlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyebutkan bahwa koordinasi intensif dengan militer Iran terus digalakkan.
Dua kapal yang dioperasikan oleh Pertamina International Shipping itu sudah tertahan lebih dari 40 hari sejak Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz.
Keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama di tengah risiko tinggi serangan militer di kawasan tersebut.
Gus Miftah: "BBM Tak Naik karena Diplomasi Pak Prabowo"
Pendakwah kondang Gus Miftah memicu keriuhan di media sosial lewat ceramahnya.
Ia mengeklaim bahwa alasan harga BBM di Indonesia tetap stabil pada April 2026 adalah karena keberhasilan diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang membuat kapal Pertamina diberi "lampu hijau" oleh Iran.
"Di saat kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak atas diplomasi Pak Prabowo boleh melewati Selat Hormuz. Itulah salah satu penyebab kenapa BBM Indonesia tidak naik," ujar Gus Miftah dalam cuplikan video viralnya.
Baca Juga: Suster Natalia Pasrah ke Penjara Demi Tabungan Umat Rp 28 Miliar yang Dikuras Oknum BNI
Kaesang Pangarep: Tinggal Masalah Teknis
Senada dengan optimisme pemerintah, Ketum PSI Kaesang Pangarep menyebutkan bahwa hambatan yang ada saat ini hanya tinggal persoalan administratif dan teknis.