KONTEKS.CO.ID - Staf Ahli Kapolri, Aryanto Sutadi, menyebut bahwa aksi demonstrasi atau unjuk rasa (Unras) massal belakangan ini merupakan paling dahsyat yang dihadapi Polri.
"Menurut saya, ini pengamanan unras massal yang terjadi sekarang ini, paling dahsyat yang dihadapi polisi sejak polisi itu ada," kata Aryanto di Jakarta, Rabu, 3 September 2025.
Menurutnya, tantangannya juga lebih besar dibanding aksi demonstrasi 212 beberapa tahun silam.
Baca Juga: Intelijen dan Aparat Keamanan Gelagapan Tangani Demonstrasi
Ia menjelaskan, aksi demonstrasi 212 dan beberapa aksi besar lainnya, isu yang diangkat tidak terlalu banyak atau bahkan single factor.
"Dahulu isunya kan cuma ya pergantian, pembinaan, tidak percaya pada ini, dan sebagainya. Cuma itu," ucapnya.
Namun pada aksi demonstrasi akhir Agustus kemarin, paling tidak ada 8 isu yang diperjuangkan demonstran. Isunya juga dari berbagai bidang, baik politik, hukum, ekonomi, dan seterusnya.
Baca Juga: Rusak Imbas Demonstrasi Rusuh, Begini Nasib 18 Traffic Light di Jakarta
"Isu politik makzulkan Gibran, Jokowi ini, ini. Isu ekonomi, kebijakan pemerintah yang pajak naik, isu tidak percaya sama DPR, isu kebencian pada polisi yang terus digembar-gemborkan," katanya.
Bukan hanya banyaknya isu, elemen yang melakukan demonstrasi juga dari berbagai kelompok masyarakat, yakni mahasiswa, buruh, dan berbagai elemen lainnya.
"Masing-masing [isu] kan punya kelompok yang gampang disulut. Itulah kemarin itu ya, kita membaca, ya inilah hebatnya para perusuh itu yang memanfaatkan potensi-potensi itu," katanya.
Baca Juga: Polisi Ungkap Lokasi Penyimpanan Bom Molotov Demonstrasi Ricuh Jakarta, Perakitnya Dijuluki Profesor
Ariyanto lebih lanjut menyampaikan, ditambah lagi derasnya provokasi dan ajakan-ajakan untuk demonstrasi serta melakukan tindakan-tindakan anarkistis di media sosial (mesdos).
"Kan anak-anak di bawah [umur] gitu. Dia diajak, besok kita ikut-ikut demo ya, bakar. Kemudian kalau ada intelijen masuk, bunuh dia. Bawa bom molotov," ujarnya.***
Artikel Terkait
Stop Brutalitas dan Kekejaman Aparat Menangani Demonstrasi, Sudah Represi Sistematis dan Kriminalisasi
Kementerian PU Siapkan Anggaran Nyaris Rp900 Miliar Perbaiki Fasilitas yang Rusak Imbas Demonstrasi
Polisi Ungkap Lokasi Penyimpanan Bom Molotov Demonstrasi Ricuh Jakarta, Perakitnya Dijuluki Profesor
Rusak Imbas Demonstrasi Rusuh, Begini Nasib 18 Traffic Light di Jakarta
Pengamat Intelijen Rildwan Habib: Intelijen dan Aparat Keamanan Gelagapan Tangani Demonstrasi dan Kerusuhan Agustus 2025