KONTEKS.CO.ID - Prof Hendro Juwono, salah satu Guru Besar di ITS berhasil menyulap limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) dengan Research Octane Number atau RON lebih tinggi dari Pertamax Turbo.
Tentu ini kabar yang menggembirakan di tengah dugaan ulah sejumlah direktur di bawah Pertamina yang mengoplos -blending- Pertalite menjadi Pertamax.
Ini adalah hasil penelitian Prof Hendro Juwono mengenai degradasi plastik dengan biomassa menjadi biofuel sebagai jalan keluar persoalan lingkungan dan energi.
Baca Juga: 10 Tempat Terdingin di Indonesia yang Cocok Buat Libur Lebaran 2025, Dua Terakhir Suhunya Sampai Titik Beku
Penelitian tersebut dilatarbelakangi terus meningkatnya jumlah penggunaan plastik di masyarakat sehingga menimbulkan beragan masalah lingkungan yang merepotkan.
Profesor dari Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS yang berfokus pada bidang polimer dan degradasi plastik ini mengatakan, sumber polimer terbagi dua yakni polimer alam dan sintetis.
Polimer alam mengandung sifat yang mudah terdegradasi bahkan terurai kembali ke alam. “Polimer alam itu misalnya karet, protein, tepung, serta kolagen,” sebutnya, mengutip laman ITS, Sabtu 8 Maret 2025.
Baca Juga: Indonesia Remuk, Semifinal Orleans Masters 2025 Hanya Sisakan Rehan dan Gloria
Berbanding terbalik dengan sifat polimer alam, polimer sintetis jsutru sulit terdegradasi dan terurai kembali ke alam. Ia mencontohkan, polietilen, polipropilen, dan polistiren yang merupakan bahan baku plastik.
Plastik sendiri turunan dari bahan tak terbarukan lantaran senyawanya mempunyai kesamaan dengan senyawa bahan bakar semisal gas dan minyak bumi.
Menimbang fakta itu, ia menggelar penelitian dengan metode pirolisis atas polimer plastik yang mudah terdegradasi.
Baca Juga: Sekjen DPR Indra Iskandar Akhirnya Jadi Tersangka Korupsi Proyek Rumah Jabatan
BBM Hasil Penelitian Punya RON Terbaik di Indonesia
Hasilnya, plastik yang sudah terolah tersebut diuji dan menunjukkan angka Research Octane Number-nya menembus angka 98-102.
“Angka RON yang muncul menunjukkan kualitas lebih bagus daripada bahan bakar yang sekarang beredar di masyarakat,” klaim Prof Hendro.
Seperti diketahui, produk BBM terbaik Pertamina yakni Pertamax Turbo hanya memiliki RON 98. Begitu juga dengan oktan BBM keluaran Shell, Shell V-Power Nitro+.
Baca Juga: Kabar Baik untuk Freeport! Kuota Ekspor Konsentrat Tembaga Disetujui
Angka RON memang menunjukkan kualitas bagus, tetapi masih ada kekurangan dari BBM "oplosan" ini. Guna menyulap limbah plastik menjadi gasoline memerlukan suhu 400 derajat celsius. Artinya, membutuhkan tegangan listrik yang besar.
Sementara untuk biomasa seperti minyak nyamplung, Crude Palm Oil (CPO), dan Waste Cooking Oil (WCO) cuma membutuhkan suhu 250 derajat celcius.
Nah untuk menghemat proses biaya, Prof Hendro mencampurkan biomassa nyamplung, WCO, dan CPO dengan limbah plastik.
Baca Juga: Jelang Fajar Juara Sri Lanka International Series 2025, Warganet Salfok sama Namanya: Unik euyy
Ketika teroplos, maka suhu yang dibutuhkan cuma 300 derajat celsius. Selain hemat biaya produksi, bahan yang dibutuhkan juga lebih murah dan bisa didapat dengan mudah.
Dia berharap risetnya dapat membantu menuntaskan persoalan lingkungan dan energi. “Penelitian ini memerlukan kesabaran dan waktu yang cukup lama,” katanya. ***
Artikel Terkait
Hasil Penelitian Terbaru UEFA: Barcelona dan Manchester United Paling Banyak Ditonton
Hasil Penelitian Ungkap 4 dari 10 Orang di Jabodetabek Merasa Kesepian, Ini Sebabnya
Pembatasan BBM Subsidi Batal, Luhut Justru Usul BBM Subsidi Dihapus Total
Reaksi Menteri ESDM Bahlil yang Kaget saat Ditanya BBM Subsidi Bakal Dihapus di 2027
Ramai Kabar Pertamax Oplosan, Ini Harga BBM Pertamina yang Berlaku 1 Maret 2025