YouTuber Yono Jambul mengungkapkan, "Mereka ada adegan jalan, kan. Nah mereka belinya aset street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya."
Hal ini membuat film minim nuansa lokal.
Sebagai perbandingan, anime populer seperti One Piece atau Demon Slayer hanya menghabiskan sekitar Rp1,8 miliar per episode dengan kualitas jauh lebih tinggi.
Penggunaan aset siap pakai juga memunculkan keraguan netizen soal klaim biaya miliaran rupiah.
Banyak yang curiga biaya karakter dan set yang dibeli hanya belasan dolar.
Baca Juga: Prabowo Panggil Kepala Bappisus, Bahas Mundurnya Dirut Agrinas di Istana, Soroti Birokrasi Lamban
Sindiran Produser Toto Soegriwo di Tengah Kontroversi
Produser film, Toto Soegriwo, menanggapi kritik dengan sindiran halus di Instagram.
"Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?" tulisnya.
Meski menuai pro dan kontra, Merah Putih One For All tetap menjadi perbincangan hangat menjelang perayaan HUT ke-80 RI, menandai pentingnya animasi lokal di mata publik.***
Artikel Terkait
Ini Aturan dan Larangan Pengibaran Bendera Merah Putih Jelang 17 Agustus, Warga RI Wajib Tahu
Kontroversi Animasi Merah Putih: One for All, Anggaran Miliaran, Visual Disebut Setara Game PS2
Polemik Merah Putih One For All, Hanung Bramantyo: Kalau Tak Dikorupsi, Hasilnya Tetap Jelek
Merah Putih One For All Bisa Tayang Karena Kenal Orang Bioskop? Netizen: Bujet Gede, Kualitas Bikin Garuk Kepala
Merah Putih One For All: Bujet Rp6,7 M, Tapi Animator Ngaku Cuma Rp1 Juta, Kualitas dan Transparansi Disorot
Film Animasi 'Merah Putih: One for All' Telan Dana Rp6,7 Miliar, Hanung Bramantyo Kritik Pedas Soal Kualitas