KONTEKS.CO.ID - Indonesia kini menghadapi dampak nyata dari krisis harga minyak dunia imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Meski demikian, guncangan global dari fluktuasi harga minyak pernah terjadi berkali-kali sejak masa Soeharto, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Joko Widodo atau Jokowi.
Terkait hal itu, Ekonom Indef Profesor Didik J Rachbini mengatakan, Indonesia harus melihat kondisi tersebut secara 'out of the box'. Menurutnya, di balik krisis justru terdapat sebuah peluang.
Baca Juga: Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum, Analis: Lebih Terpusat dan Terkontrol
Indonesia, kata dia, harus memanfaatkan krisis harga minyak dunia dengan penguatan sektor 'Natural Hedge' atau sumber daya alam (SDA).
"Dalam menghadapi krisis, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai sebagai 'shock absorber' saat terjadi krisis energi global," ujarnya dalam keterangan tertulis, mengutip Sabtu 11 April 2026.
Menurutnya, kebijakan yang tepat akan menentukan sektor-sektor ini hanya akan menjadi 'penyelamat jangka pendek' atau justru menjadi fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.
Krisis harga minyak, lanjutnya, akan menekan perekonomian Indonesia melalui peningkatan biaya energi, tekanan fiskal subsidi, dan pelemahan nilai tukar.
Namun di balik tekanan tersebut terdapat sejumlah sektor yang justru menunjukkan ketahanan (resilience) bahkan menjadi pemenang (winner) dalam kondisi tersebut.
"Sektor-sektor tersebut meliputi sektor pertambangan batubara, minyak bumi, gas, dan panas bumi, bijih logam (nikel, timah, bauksit) dan perkebunan (CPO dan karet)," jelasnya.
Semua sektor tersebut meski basis inputnya domestik rupiah namun outputnya ekspor dan menghasilkan valuta asing, dolar, yen atau yuan yang sekaligus keuntungan dari depresiasi nilai tukar.
Lantaran itu, Indonesia harus membuat kebijakan dan memberikan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan momentum tersebut guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Impor minyak mentah dan BBM, kata Didik, sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak global, lalu berakibat pada tekanan transaksi berjalan, beban subsidi di dalam fiskal besar dan ada dampak deresiasi rupiah.