• Sabtu, 18 April 2026

Rupiah Melemah 1 Poin Jadi Rp17.105 per USD Senin Sore, Gejolak Global Memanas Imbas Blokade AS di Selat Hormuz

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Senin, 13 April 2026 | 17:31 WIB
Nilai tukar rupiah melemah tipis. (Instagram.com/fandiah_18)
Nilai tukar rupiah melemah tipis. (Instagram.com/fandiah_18)

KONTEKS.CO.ID - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin, 13 April 2026, turun 1 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp17.105 per USD dari sebelumnya Rp17.104 per USD.

Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketegangan global setelah kebijakan blokade Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut sentimen eksternal menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga: BAM Umumkan Skuad Piala Thomas dan Uber 2026: Zii Jia dan Aaron-Wooi Yik Pimpin Perburuan Malaysia di Sektor Putra

"Presiden Donald Trump mengatakan pada Minggu kalau Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz, meningkatkan taruhan setelah perundingan maraton dengan Iran gagal mencapai kesepakatan," ujarnya dalam riset yang dirilis hari ini.

Kebijakan tersebut muncul setelah perundingan damai antara Donald Trump dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.

Komando Pusat AS bahkan mengumumkan penerapan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Baca Juga: Rilis BI: Didorong Ramadan dan Lebaran, Penjualan Ritel Maret 2026 Tetap Tumbuh

Meski demikian, AS menegaskan tidak akan menghalangi kebebasan navigasi kapal yang melintas menuju pelabuhan non-Iran melalui Selat Hormuz.

Informasi teknis juga akan disampaikan kepada pelaut komersial sebelum kebijakan diberlakukan.

Sementara Garda Revolusi Iran memperingatkan setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.

Baca Juga: Prestasi Internasional Mahasiswa UGM di Bidang Antariksa Tak Boleh Berhenti di Kompetisi

Ketegangan ini turut berdampak pada lonjakan inflasi di Amerika Serikat akibat kenaikan harga energi.

Data indeks harga konsumen terbaru memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS tidak akan segera memangkas suku bunga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X