KONTEKS.CO.ID - Analis pasar saham di Indonesia menyebut sentimen masih sangat hati-hati, menanti perkembangan lebih lanjut soal protes dan tanggapan pemerintah.
Saham-saham Indonesia anjlok sekitar 3,6 persen pada perdagangan Senin pagi, sementara nilai rupiah sempat melemah sebelum pulih sedikit berkat intervensi Bank Indonesia.
Pergerakan ini terjadi setelah pasar menggeliat sebagai reaksi atas protes nasional yang berlangsung tiga hari dan menyebabkan sejumlah korban tewas.
Baca Juga: Gejolak Politik Tekan Pasar Saham Indonesia dan Thailand, Ini Analisis Pakar
Menanggapi situasi ini, Pemerintah dan para regulator menegaskan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan cadangan devisa tetap sehat dan sistem perbankan kokoh.
Untuk meredam dampak negatif protes terhadap perekonomian, disiapkan paket insentif.
Baca Juga: Apa Itu Trading Halt? Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya Bagi Pasar Saham
Termasuk percepatan program bantuan sosial seperti makanan gratis untuk pelajar dan ibu hamil, serta dukungan kredit untuk investasi di sektor properti dan padat karya.
Bank Indonesia juga turut campur tangan aktif, dengan menegaskan intervensi di pasar valas, baik onshore maupun offshore, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Langkah ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tertekan akibat gejolak pasar.
Baca Juga: Pihak Tertentu Bikin Demo Rusuh Demi Darurat Militer, Ini Beberapa Tujuannya
Secara historis, kondisi saat ini disebut-sebut sebagai krisis politik dan ekonomi terserius sejak kerusuhan 1998.
Itu mengingat protes menyebar ke berbagai kota dan diwarnai kerusuhan, looting, serta aksi bakar gedung.
Artikel Terkait
Bukan Modal, Ini Faktor Tersembunyi yang Jadi Penentu Sukses Awal Investasi Saham di 2025
Gejolak Politik Tekan Pasar Saham Indonesia dan Thailand, Ini Analisis Pakar
Saham BCA Tertekan, Net Sell Asing Jadi Sorotan
Isu BLBI Bayangi Saham BCA, Fundamental Tak Cukup Tahan Tekanan