• Sabtu, 18 April 2026

Strategi Starbucks Bangkitkan Penjualan yang Lesu karena Boikot

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Rabu, 30 Juli 2025 | 12:48 WIB
Starbucks melaporkan laba yang lebih rendah di tengah tantangan ekonomi (foto: twitter.com/@parasizceo)
Starbucks melaporkan laba yang lebih rendah di tengah tantangan ekonomi (foto: twitter.com/@parasizceo)

Baca Juga: Terdampak Aksi Boikot Produk Israel, Saham SM Entertainment Anjlok Setelah NCT Kolaborasi dengan Starbucks

Namun, penjualan same-store secara global tetap turun 2% pada kuartal yang berakhir 29 Juni—kontraksi keenam secara berturut-turut.

Penjualan same-store di Amerika Utara turun 2%, sedangkan di China naik 2% setelah sebelumnya stagnan di kuartal sebelumnya.

Persaingan ketat dari brand lokal seperti Luckin Coffee dan Cotti Coffee, serta konsumen yang makin berhemat, membuat Starbucks bulan lalu menurunkan harga beberapa minuman es di China sebesar rata-rata 5 yuan.

“Laporan ini hasilnya tidak seburuk yang diduga, berkat performa China, tapi ini tetap kisah pemulihan,” kata Dave Wagner, manajer portofolio di Aptus Capital Advisors.

Baca Juga: Laba Anjlok di Kuartal I 2024, Starbucks Ambil Langkah Ini

Meski begitu, laba per saham Starbucks tercatat hanya 50 sen (disesuaikan), di bawah ekspektasi analis sebesar 65 sen. Laba ini tidak termasuk beban sebesar 11 sen per saham, termasuk dari acara pertemuan pemimpin di Las Vegas awal tahun ini.

Acara tersebut menghadirkan lebih dari 14.000 manajer dan pimpinan gerai dari seluruh Amerika Utara, yang turut menikmati konser privat Bruno Mars.

Marjin operasional juga menyusut 650 basis poin menjadi 10,1%, akibat pengeluaran besar untuk pemulihan bisnis, penambahan jam kerja, dan biaya acara tersebut.

“Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi investasi tenaga kerja mereka mulai menunjukkan dampak positif, terutama saat jam-jam sibuk,” ujar R.J. Hottovy dari Placer.ai.

Baca Juga: Starbucks Luncurkan Kopi Rasa Babi, Harganya Rp150.000, Mau Coba?

Starbucks juga tengah mempertimbangkan kemitraan strategis dan joint venture untuk bisnisnya di China yang disebut-sebut bernilai hingga USD 10 miliar.

Manajemen mengungkapkan telah menerima lebih dari 20 ketertarikan dan sedang mengevaluasi opsi terbaik sambil berupaya mempertahankan “porsi saham yang signifikan” dalam bisnis tersebut.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X