KONTEKS.CO.ID - Tensi diplomatik antara Florida dan Vatikan makin mendidih.
Presiden Donald Trump terpantau kembali melontarkan kritik tajam alias "nyinyiran" kepada Paus Leo XIV melalui platform Truth Social.
Kali ini, Trump membawa narasi angka kematian warga sipil yang cukup fantastis untuk menjustifikasi kebijakan luar negerinya.
Baca Juga: Kampus Darurat Pelecehan SETARA Institute: Saatnya Tata Kelola Inklusif Jadi Harga Mati!
Klaim 42 Ribu Nyawa dan Isu Nuklir
Dalam unggahannya, Trump mengeklaim bahwa Iran telah membunuh sedikitnya 42.000 demonstran yang tidak bersenjata dalam dua bulan terakhir.
Angka ini digunakannya sebagai tameng untuk menegaskan bahwa Iran sama sekali tidak boleh memiliki akses terhadap senjata pemusnah massal.
"Ia meminta seseorang memberi tahu Paus Leo bahwa Iran telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran yang tidak bersalah dan tidak bersenjata dalam dua bulan terakhir," tulis Trump dalam unggahan yang diakhiri dengan jargon khasnya, "AMERIKA TELAH KEMBALI!"
"... dan bahwa Iran memiliki bom nuklir adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima," tegas Trump lagi.
Baca Juga: Kronologi Grup Chat Toxic: Bongkar Skandal Pelecehan 16 Mahasiswa FH UI, Satgas PPKS Turun Tangan
Balasan Atas Kritik "Raja Damai"
Perselisihan ini dipicu oleh sikap Paus Leo XIV yang vokal mengkritik agresi militer AS-Israel ke Iran sejak Februari lalu.
Sang Pontifex sebelumnya mendesak penghentian kekerasan dengan menekankan nilai-nilai teologis bahwa agama tidak boleh jadi legitimasi perang.
"Inilah tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang," ujar Paus Leo saat memimpin homili di Lapangan Santo Petrus.
Baca Juga: BPKP Sebut Kasus Chromebook Nadiem Rugikan Negara Rp1,5 T, Harga Wajar Cuma 3 Jutaan!
Trump: "Jangan Dikte Kebijakan AS"
Tak terima kebijakannya dihakimi, Trump membalas dengan menegaskan bahwa dirinya tidak membutuhkan pemimpin agama yang memandang buruk langkah Amerika Serikat.