KONTEKS.CO.ID - Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia di tengah memanasnya hubungan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).
Perairan sempit yang memisahkan Iran dan Semenanjung Arab itu merupakan jalur vital yang mengalirkan sebagian besar minyak mentah dunia.
Ketika Iran memperketat kontrol dan melakukan blokade, efeknya langsung terasa pada rantai pasok energi global.
Baca Juga: Dugaan Ratusan Siswa Keracunan MBG di Jakarta Timur, Orang Tua Desak Penghentian Program
Sejumlah negara mulai merasakan penurunan drastis suplai minyak akibat terganggunya arus pelayaran di kawasan tersebut.
Diblokadenya Selat Hormuz membuat distribusi minyak ke berbagai belahan dunia tersendat hingga ke titik mengkhawatirkan.
Namun, Hormuz tak hanya berbicara soal geopolitik dan ekonomi.
Nama selat tersebut menyimpan jejak sejarah dan kebudayaan yang panjang.
Salah satu pendapat menyebut istilah "Hormuz" berasal dari “Hormoz”, bentuk kuno bahasa Persia yang merujuk pada Ahura Mazda, yaitu dewa cahaya dan kebijaksanaan dalam kepercayaan Zoroastrianisme.
Ada pula tafsir lain yang menghubungkannya dengan istilah “Hur-Muz” yang berarti lokasi pohon kurma, serta teori linguistik dari tradisi Yunani yang merujuk pada bentuk fisik pantai dan teluk.
Baca Juga: JK Dikatakan Titip Sembilan Pesan Rahasia untuk Prabowo
Ragam etimologi ini menunjukkan bagaimana kawasan tersebut menjadi simpul pertemuan budaya besar dunia.
Sejak abad ke-11, kendali atas Selat Hormuz kerap berpindah dari satu kekuatan ke kekuatan lain.