KONTEKS.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan konflik militer dengan Iran dapat dihentikan dalam waktu dekat tanpa harus melalui kesepakatan formal.
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi perang yang telah mengguncang pasokan energi global dan menekan ekonomi dunia.
Klaim Perang Bisa Selesai Tanpa Kesepakatan
Dalam keterangannya di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa penghentian operasi militer tidak bergantung pada jalur diplomasi.
Baca Juga: Mulai Pusing Tagihan Membengkak, Trump Lirik 'Kantong' Negara Arab buat Bayar Biaya Perang Iran
"Iran tidak perlu membuat kesepakatan, tidak," tegasnya, mengutip Aljazeera, Rabu, 1 April 2026.
Ia bahkan menyebut AS bisa segera mengakhiri keterlibatannya dalam konflik dalam waktu singkat.
"Ketika kita merasa bahwa mereka, untuk jangka waktu yang lama, telah kembali ke zaman batu dan mereka tidak akan mampu menciptakan senjata nuklir, maka kami akan pergi," katanya sinis.
Trump memperkirakan proses tersebut dapat berlangsung dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Iran Bantah Ada Proses Negosiasi
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi menegaskan tidak ada pembicaraan resmi dengan Washington terkait penghentian konflik.
Dalam wawancara dengan Aljazeera, ia menyebut meski ada pertukaran pesan, baik langsung maupun tidak langsung, hal itu belum bisa disebut sebagai negosiasi.
Pernyataan ini sekaligus membantah klaim sebelumnya dari Trump yang menyebut Iran tengah 'memohon' kesepakatan.
Iran juga kembali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak bertujuan untuk memproduksi senjata.
Pengamat: Klaim Trump Sulit Dipercaya
Pakar kebijakan luar negeri dari Quincy Institute, Trita Parsi menilai, pernyataan Trump tidak bisa langsung dipercaya begitu saja.
Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa target waktu yang disampaikan pemerintah AS kerap berubah alias plin-plan.
“Ingat, awalnya mereka mengatakan bahwa perang ini akan berakhir dalam empat hari. Kemudian, tiga minggu yang lalu, mereka mengatakan akan memakan waktu tiga minggu. Tiga minggu telah berlalu, dan sekarang kita mendengar bahwa itu dua hingga tiga minggu,” kata Parsi.
Ia menilai situasi di lapangan jauh lebih kompleks, bahkan menyebut konflik yang meluas ini telah berubah menjadi krisis besar.
Baca Juga: Trump Blak-blakan Akui Sangat Bernafsu Kuasai Minyak Iran, Pulau Kharg Jadi Target Panas
“Jangka waktu terus diperpanjang karena, pada akhirnya, Amerika Serikat tidak lagi mengendalikan perang ini,” tambahnya.
Konflik Meluas, Dampak Global Kian Terasa
Perang antara AS, Israel, dan Iran kini telah meluas ke berbagai wilayah, termasuk Lebanon, dengan korban jiwa mencapai ribuan orang, yang sudah pastinya sebagian besar warga sipil.
Selain dampak kemanusiaan, konflik ini juga memicu gangguan serius pada distribusi energi dunia, yang berimbas pada kenaikan harga dan ketidakstabilan ekonomi global.***