KONTEKS.CO.ID - Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan masih hidup setelah adanya upaya pembunuhan di tengah situasi keamanan yang memburuk.
Informasi itu disampaikan sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Iran International pada Selasa, 3 Maret 2026.
Sumber terpercaya tersebut menyatakan Ahmadinejad berhasil selamt dan tidak mengalami luka sedikitpun. Ia kini telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Kabar Simpang Siur di Tengah Serangan AS-Israel
Selama akhir pekan, di saat serangan Israel berlangsung, sejumlah media Iran menyampaikan laporan yang berbeda-beda mengenai nasib Ahmadinejad.
Ada yang menyebut ia tewas, sementara media lain mengatakan belum dapat mengonfirmasi klaim tersebut.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari otoritas Iran mengenai laporan upaya pembunuhan tersebut.
IRGC Desak Suksesi Dipercepat
Di tengah ketidakpastian, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran dilaporkan mendesak agar pemimpin Republik Islam segera ditunjuk setelah kematian Ali Khamenei.
Menurut sumber yang berbicara dengan syarat anonim kepada Iran International, struktur komando IRGC yang tersisa berupaya merampungkan keputusan tersebut dalam beberapa jam.
Sumber itu menyebutkan bahwa serangan udara yang masih berlangsung membuat sidang Majelis Pakar Iran tidak memungkinkan untuk digelar. Majelis Pakar merupakan badan konstitusional yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi.
Karena itu, IRGC disebut mendorong agar penunjukan pemimpin berikutnya dilakukan di luar prosedur hukum yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Intelijen Iran Kantongi Lokasi Rapat Netanyahu! Teheran Siap Bombardir Israel Pakai Rudal Presisi
Struktur Keamanan Disebut Terguncang
Laporan yang diterima Iran International menyebutkan bahwa setelah pembunuhan Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel, kondisi di dalam struktur keamanan dan militer Iran semakin tidak stabil.
Sumber menyatakan sebagian rantai komando terganggu. Penyampaian perintah dan koordinasi operasional disebut menghadapi hambatan serius.
Situasi ini dinilai dapat memperumit pengambilan keputusan di lapangan serta manajemen krisis dalam beberapa jam dan hari ke depan.
Informasi lain menyebutkan sejumlah komandan militer dan personel berpangkat rendah memilih untuk tidak melapor ke pangkalan dan pusat militer mereka.
Keengganan tersebut dipicu kekhawatiran atas kemungkinan berlanjutnya serangan Amerika Serikat dan Israel, serta risiko fasilitas komando dan pendukung menjadi sasaran.***