KONTEKS.CO.ID - Tim penyelamat tengah fokus ke wilayah terpencil Afghanistan setelah gempa bumi menewaskan lebih dari 1.400 orang.
Seorang kepala penanggulangan bencana provinsi mengatakan, pihak berwenang tidak dapat memprediksi jumlah jenazah yang terjebak di bawah reruntuhan.
“Tim penyelamat berusaha mencapai daerah-daerah terpencil di wilayah Kunar, Afghanistan timur, setelah gempa bumi dahsyat menewaskan sedikitnya 1.411 orang dan melukai 3.124 lainnya,” ungkap Juru Bicara Pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, mengutip Al Jazeera, Rabu 3 Agustus 2025.
Pada hari Selasa, Mujahid menulis dalam sebuah unggahan di X bahwa 5.412 rumah hancur akibat intensitas gempa bumi.
Sebelumnya, Kepala Penanggulangan Bencana Kunar, Ehsanullah Ehsan, mengatakan, upaya akan diperluas ke lebih banyak wilayah pegunungan di wilayah tersebut.
"Kami tidak dapat memprediksi secara akurat berapa banyak jenazah yang mungkin masih terjebak di bawah reruntuhan," kata Ehsan.
“Upaya kami adalah menyelesaikan operasi ini sesegera mungkin dan mulai mendistribusikan bantuan kepada keluarga yang terdampak,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa beberapa korban luka telah dipindahkan ke rumah sakit di Provinsi Nangarhar dan Ibu Kota Kabul.
Baca Juga: Fenomena Langka! Gerhana Bulan Total Hiasi Langit Indonesia pada 7 September 2025
Di tengah upaya pemulihan yang sedang berlangsung, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa Afghanistan timur laut dilanda gempa berkekuatan Magnitudo 5,2 yang terjadi pada kedalaman 10 km (6,2 mil).
Salah satu gempa bumi paling mematikan yang pernah dialami negara yang rawan gempa ini terjadi tepat sebelum tengah malam pada hari Minggu, 31 Agustus 2025. Gempa tersebut dangkal, berkekuatan 6 skala Richter, dengan episentrum pada kedalaman sekitar 8 km (5 mil).
Lahan pegunungan di daerah tersebut menyulitkan upaya penyelamatan. Para relawan belum dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di sepanjang perbatasan Pakistan, di mana sebagian besar rumah-rumah berbata lumpur telah hancur.
Menurut Ehsan, akses kendaraan ke jalan-jalan pegunungan yang sempit di daerah tersebut menjadi kendala utama bagi upaya bantuan. Jalan-jalan tersebut telah rusak akibat gempa atau tertutup tanah longsor.