KONTEKS.CO.ID - Kata naturalisasi tak hanya berlaku bagi olahraga sepak bola. Di dunia bulu tangkis, perpindahan kewarganegaraan atlet juga marak terjadi.
Untuk kasus Indonesia, banyak pebulu tangkis berbakat Tanah Air yang diincar negara lain. Mulai dari Australia hingga Amerika Serikat.
Menelisik ke belakang, setidaknya ada 5 (lima) atlet tepok bulu Merah Putih yang dinaturalisasi negara lain. Alasannya, mencari kesempatan yang lebih besar untuk bermain dan adanya kepentingan pribadi.
Baca Juga: Pengakuan Terbaru Eks Pemain Sirkus OCI Taman Safari: Dirantai karena Ketemu Orang Luar, Dipaksa Main Saat Hamil 9 Bulan
Indonesia sendiri sejak dulu terkenal sebagai gudangnya pebulu tangkis berbakat. Banyak pemain Indonesia yang sudah menorehkan prestasi di beragam turnamen dunia.
Berikut deretan pebulu tangkis nasional yang mencari peruntungan baru dengan membela bendera negara lain.
1. Andika Ramadiansyah
Di belakang Tony ada atlet bernama Andika Ramadiansyah. Dia lulusan PB Djarum yang pernah membawa pulang medali perunggu pada Kejuaraan Asia Junior 2015.
Baca Juga: Bocoran Spesifikasi Lengkap realme GT 8 Pro, Salah Satunya Kamera Periskop 200 MP
Andika juga pernah bergabung dengan Pelatnas PBSI dan bermain bersama sejumlah pebulutangkis dengan nama besar. Misalnya, Rinov Rivaldy serta Yeremia Rambitan.
Di bulan Oktober 2022, dia resmi pindah kewarganegaraan dari RI menjadi Australia. Sayangnya, keputusan itu kurang tepat.
Performanya terus menurun pascanaturalisasi. Andika jarang terlihat bermain di turnamen besar BWF lantaran peringkatnya yang rendah.
Baca Juga: Kronologi 3 Mobil Polisi Dibakar Warga Depok saat Jemput Tersangka Kepemilikan Senpi
2. Ganda Putra Pramudya Kusumawardana
Pemain yang satu ini terkenal sebagai salah satu pemain muda berbakat nasional pada sektor ganda putra. Berduet dengan Yeremia Rambitan, Pramudya Kusumawardana menjadi juara Kejuaraan Asia 2022.
Setahun kemudian, sang atket memutuskan keluar dari Pelatnas Cipayung. Ini demi melanjutkan pendidikan di Australia. Di sana, ia juga aktif sebagai pelatih sekaligus pemain.
Di bawah bendera Australia, Pramudya bermain di sektor ganda campuran (Nozomi Shimizu) dan ganda putra (Andika Ramadiansyah).
Baca Juga: Heboh, 3 Toples Cacing Gelang Ditemukan di Perut Anak 3 Tahun di Jember yang Ngeluh 6 Bulan
Terlepas prestasi para atlet di atas, keputusan mereka berpindah kewarganegaraan mengundang pro dan konta masyarakat.
3. Ganda Putri Setyana Mapasa
Kalau di ganda putra ada Pramudya, maka di ganda putri tersebut nama Setyana Mapasa. Dia sebelumnya sebagai pebulu tangkis andalan PBSI di sektor ganda putri dan pernah meraih medali perak di Kejuaraan Dunia Junior 2013.
Tetapi cedera serius pada 2014 harus mengharuskannya berada di tepi lapangan cukup lama. Dan usai pulih dari cedera, Setyana berpindah kewarganegaraan Australia.
Baca Juga: Dokter PPDS UI Tersangka Intip dan Rekam Mahasiswi PKL Mandi di Indekos
Di Australia, Setyana dipasangkan dengan Gronya Somerville. Mereka pernah mendjadi juara Belanda Open dan Canada Open pada 2016.
4. Tunggal Putri Mia Audina
Fan badminton nasional pasti mengenal Mia Audina. Atlet tunggal putri itu sempat diprediksi sebagai pengganti Susi Susanti.
Prestasinya bukan kaleng-kaleng. Mia pernah menyabet medali perak Olimpiade Atlanta 1996. Dia juga memiliki peran besar membawa Tim Uber Indonesia juara pada 1994 dan 1996.
Baca Juga: Beda Sikap dengan Xi Jinping, Demi Tarif Trump Indonesia 'Obral' Kesepakatan yang Bikin AS Menang Banyak
Sayangnya, pada 2000, srikandi bulu tangkis Indonesia lebih memilih pindah kewarganegaraan menjadi warga Belanda. Alasannya masuk akal, lantaran mengikuti suaminya yang merupakan warga asal Belanda.
Membawa bendera Merah Putih Biru, Mia kembali berhasil memboyong medali perak Olimpiade Athena 2004. Dua tahun kemudian pensiun dari dunia perbulutangkisan.
5. Ganda Putra Tony Gunawan
Ganda campuran Tony Gunawan juga dinaturalisasi negara lain. Dia merupakan salah satu atlet ganda putra terbaik yang pernah Indonesia miliki.
Baca Juga: KAI Tambah 35 Perjalanan Kereta di Libur Paskah 2025
Bersama Candra Wijaya, ganda campuran Indonesia berhasil merebut medali emas Olimpiade Sydney 2000.
Dia memilih berdomisili di Amerika Serikat, sekaligus berkarier sebagai pelatih dan pemain pada 2002. Kemudian berhasil mengklaim gelar juara Kejuaraan Dunia 2005 bersama Howard Bach.
AS lalu menaturalisasi Tony menjadi warga negaranya di 2011. Kemudian sempat bermain di Olimpiade London 2012 sebelum memutuskan pensiun dan menjalani peran sebagai pelatih badminton di Amerika. ***