"Pada 2025, Gen Z menyumbang 34 persen pengguna baru platform lelang digital dan 54 persen pembeli koleksi untuk pertama kalinya," imbuhnya.
Dijelaskan, pola belanja generasi muda ini dipengaruhi tiga hal utama, yakni nostalgia dengan sentuhan modern, pengaruh media sosial, dan pandangan bahwa koleksi adalah aset investasi.
Baca Juga: Dari Letjen ke Bintang 4! Prabowo Anugerahi Pangkat Jenderal Kehormatan untuk Sjafrie Sjamsoeddin
Strategi kelangkaan dan fear of missing out (FOMO) juga membuat orang terdorong membeli berulang kali.
Ditambah kekuatan media sosial, tren yang awalnya kecil bisa meledak menjadi fenomena global tanpa perlu iklan besar-besaran.
Kini, para pelaku industri yang mampu memahami perpaduan antara nilai emosional dan daya tarik digital punya peluang besar.
Bagi konsumen, sebagian menilai ihwal membeli Labubu atau bebek karet bukan berarti boros, melainkan cara menjaga kewarasan di tengah ekonomi yang penuh tekanan.***
Artikel Terkait
Bidik Turis Asia Tenggara, Kemenpar Perkuat Kolaborasi Pariwisata Melalui ASEANTA
Deposito Online Makin Diminati, Praktis dan Aman di Era Digital
5 Ribu Orang Hadiri Perayaan 'BRI Taipei Teman Seperjuangan PMI'
Danantara Disebut Janji Beli Gula Petani yang Belum Terjual, Nilainya Rp1,5 Triliun
Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp1,95 Juta per Gram, Ketahui Selisih Harga dan Pajak yang Perlu Diperhatikan!