Namun semuanya berubah pada 23 Juli 1954. Seorang agen muda bernama Philip Natanson menuju Bioskop Rio di Alexandria dengan bom di sakunya.
Tanpa diduga, pemicu bahan peledak terpicu lebih cepat.
Natanson terbakar dan jatuh tersungkur di depan pintu bioskop.
Polisi segera menangkapnya dan menemukan bukti yang langsung mengarah pada jaringan mata-mata Israel.
Interogasi intensif membuat Natanson membuka suara.
Nama-nama anggota jaringan bocor dan dalam hitungan jam aparat Mesir melakukan penggerebekan massal. Dokumen rahasia dan peralatan sabotase disita.
Dunia internasional terkejut ketika Mesir mengumumkan dalangnya adalah jaringan intelijen Israel.
Baca Juga: Rahasia Greenland, dari Branding Erik The Red Hingga Logika Transaksional Trump
Rencana besar mengadu domba Mesir dengan AS justru berbalik merugikan Israel dan mempermalukan mereka di mata sekutu Barat.
Kegagalan Operasi Sunannah menjadi pukulan fatal.
Nasser menggunakan momentum ini untuk memperkuat posisi politiknya dan menegaskan ancaman stabilitas justru datang dari Israel.
Di Tel Aviv, kabinet saling tuding soal siapa pemberi perintah akhir. Krisis politik pun meledak.