Tujuannya jelas: mengadu domba Mesir dengan AS dan Inggris, serta menunjukkan kepada dunia kalau rezim Nasser tidak mampu menjaga keamanan warga asing.
Baca Juga: Dari Meja Negara ke Es Lilin: Jejak Sunyi Jaksa Agung Kasman Singodimedjo
Operasi ini mengandalkan sel-sel warga Yahudi lokal di Mesir, yaitu pemuda-pemuda yang direkrut diam-diam dan dilatih intel Israel.
Mereka percaya sedang berjuang demi kelangsungan hidup Israel, tanpa menyadari mereka hanya pion dalam permainan geopolitik.
Rekrutmen telah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya. Perwira intelijen Israel, Avraham Dar, masuk ke Mesir dengan identitas palsu sebagai pengusaha Inggris.
Ia membangun jaringan komunikasi dan melatih para agen di Kairo dan Alexandria, mulai dari teknik membuat bom rakitan hingga metode komunikasi sandi.
Strategi utama operasi adalah ‘false flag’ yang membuat serangan terlihat seolah dilakukan kelompok militan lokal, seperti Ikhwanul Muslimin.
Targetnya bukan objek militer, tetapi simbol budaya Barat: kantor pos, stasiun kereta, hingga perpustakaan Amerika. Israel berharap serangan ini membuat AS membatalkan rencana bantuan senjata ke Mesir.
Baca Juga: Pemberontakan Heroik PETA di Hari Valentine, Sebuah Jejak Sunyi Soeprijadi Menuju Misteri Abadi
Namun di dalam pemerintahan Israel sendiri terjadi friksi.
Menteri Pertahanan Pinhas Lavon berada di bawah tekanan untuk menunjukkan kekuatan.
Sementara, faksi-faksi intelijen sering bergerak tanpa koordinasi. Struktur komando yang tumpang tindih inilah yang kelak memicu bencana politik besar di Tel Aviv.
Dimulainya Operasi Susannah
Pada musim panas 1954, operasi dimulai. Bom-bom kecil meledak di Alexandria dan Kairo. Media internasional menyoroti ketidakstabilan keamanan Mesir.
Para perencana di Tel Aviv sempat percaya aksi mereka berjalan mulus.