kontekstory

Dari Susannah ke Epic Fury, Ketika AS dan Israel Gemar Melakukan Operasi Militer di Timur Tengah

Sabtu, 18 April 2026 | 11:24 WIB
Menteri Pertahanan Pinchas Lavon, kiri, dan Kepala IDF Moshe Dayan, dengan Shimon Peres di latar belakang, pada 8 Februari 1953. (GPO)

KONTEKS.CO.ID - Perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran dengan nama ‘Operasi Epic Fury’ mengingatkan pada peristiwa serupa di awal 1950-an, yaitu ‘Operasi Susannah’, dengan objeknya adalah Mesir.

Di era itu, kondisi politik di Kairo memang sedang mendidih.

Revolusi perwira menengah yang dipimpin Gamal Abdel Nasser baru saja menumbangkan kekuasaan monarki Raja Farouk.

Baca Juga: Kisah Marshall Green, Diplomat 'Spesialis Kudeta' yang Terperangkap Labirin Klenik Soekarno

Semangat nasionalisme Mesir bangkit dan mulai mengancam kepentingan negara-negara kolonial di Terusan Suez.

Namun dari balik perbatasan, Israel memandang pergeseran kekuasaan ini dengan kecemasan besar. Pemerintah Israel di Tel Aviv merasa posisi strategis mereka terancam.

Kala itu, Washington mulai melirik Nasser sebagai mitra potensial untuk membendung pengaruh komunis. Itu sebabnya Presiden AS Dwight Eisenhower berencana memberikan bantuan militer serta ekonomi kepada Mesir.

Baca Juga: Sejarah BAIS TNI, Intelijen 'Angker' dalam Sunyi yang Didirikan Raja Intel Benny Moerdani

Bagi Israel, menguatnya hubungan Mesir-AS adalah lonceng bahaya.

Apalagi, rencana Inggris menarik pasukannya dari zona Terusan Suez membuat ketegangan kian meningkat.

Israel khawatir tanpa kehadiran Inggris, Nasser akan memiliki kendali penuh atas jalur air vital tersebut, sehingga membuat Mesir leluasa memobilisasi pasukan ke Gurun Sinai.

Baca Juga: Serahkan Semua Tabungan untuk Perjuangan RI, Muhammad Ali Taher Bikin Indonesia ‘Berutang’ Kemerdekaan bagi Palestina

Ketakutan inilah yang memicu munculnya gagasan ekstrem di tubuh intelijen militer Israel, yaitu menggelar Operasi Susannah.

Unit 131, divisi rahasia di bawah intelijen militer Israel, diperintahkan menyusun rencana sabotase untuk menciptakan kekacauan di Mesir dengan sasaran aset-aset milik negara Barat.

Halaman:

Tags

Terkini