Kebijakan ini menciptakan ketegangan di pasar global dan berdampak pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Faktor Domestik: Manufaktur Indonesia Masih Lemah
Baca Juga: Asosiasi Truk Serukan Pengemudi Pasang Bendera Merah Putih di Armada Sambut HUT ke-80 RI
Dari dalam negeri, pasar juga dihantam kabar negatif dari sektor manufaktur.
Data terbaru Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia dari S&P Global menunjukkan kontraksi lanjutan, dengan indeks berada di level 49,2 pada Juli 2025.
Angka ini lebih rendah dari ambang batas 50 yang menandakan ekspansi, mencerminkan penurunan produksi, melemahnya permintaan baru, serta pemangkasan tenaga kerja dan aktivitas pembelian.
"Tren kontraksi manufaktur selama empat bulan terakhir cukup mengkhawatirkan karena sinyal pemulihan yang tadinya muncul di awal tahun mulai menghilang," ungkap Ibrahim mengutip Senin, 4 Agustus 2025.
Baca Juga: Penjagaan Ketat Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah oleh TNI Pelanggaran Serius Supremasi Hukum
Data AS Jadi Sorotan Pasar Minggu Ini
Fokus utama investor global pekan ini tertuju pada serangkaian rilis data ekonomi AS.
Data Nonfarm Payroll (NFP), PMI Manufaktur ISM, dan indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan diprediksi menjadi penggerak utama arah dolar AS.
Kinerja yang mengecewakan dari data ini bisa membuka peluang pelemahan dolar dan memberi sedikit ruang napas bagi rupiah.
Kombinasi antara tekanan eksternal dari kebijakan dagang Trump dan lemahnya fundamental ekonomi domestik membuat rupiah sulit lepas dari tekanan.
Jika kondisi ini berlanjut, Bank Indonesia kemungkinan akan meningkatkan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas.
Investor dan pelaku pasar sebaiknya mencermati perkembangan global secara ketat dalam beberapa hari ke depan.***