KONTEKS.CO.ID – Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) mendesak pemerintah menerapkan kebijakan Kewajiban Pasar Domestik (DMO) untuk gas alam.
Ini menyusul gangguan pasokan energi karena Perang Teluk yang semakin menekan industri.
DMO diperlukan agar sebagian produksi gas wajib dialokasikan ke pasar dalam negeri dan tidak seluruhnya diekspor.
Baca Juga: Bangladesh Krisis BBM: SPBU Terancam Tutup, Antrean Kendaraan Mengular Panjang
Ketua Asaki, Edy Suyanto, mengungkapkan industri keramik kini menghadapi beban berlapis.
Mulai tersendatnya pasokan gas, kenaikan harga energi, hingga meningkatnya tekanan impor.
Kombinasi ini disebut telah melemahkan operasi pabrikan dan menurunkan kapasitas produksi.
Baca Juga: Menko PMK Sebut Pembelajaran Tatap Muka Tetap Berjalan saat Krisis Global, Tak Jadi Online?
"Gangguan pasokan gas ini berdampak langsung terhadap operasional pabrik dan produktivitas industri," ujar Edy, Rabu, 24 Maret 2026.
Menurutnya, pemenuhan gas untuk kebutuhan domestik harus menjadi prioritas karena industri keramik memiliki efek pengganda yang kuat.
"Kita harus memprioritaskan gas alam untuk kebutuhan industri dalam negeri,” katanya.
Baca Juga: KPK Respons Rencana Noel Ebenezer yang Minta Jadi Tahanan Rumah Ikuti Jejak Yaqut
“Sektor ini menciptakan lapangan kerja dan mendorong investasi baru.”
Asaki juga melaporkan utilisasi produksi industri keramik pada kuartal I/2026 hanya berada di kisaran 70–72 persen.
Artikel Terkait
Cara Efektif Membersihkan Kerak pada Keramik agar Tetap Berkilau
Kemendag Sita Jutaan Keramik Impor Tak Berstandar Asal China
Mau Renovasi Rumah? Keramik Impor Kini Lebih Mahal dari Lokal, Simak Alasannya
Temuan Keramik China Abad 10 di Gunung Tangkil Ungkap Jalur Perdagangan