Posisi Mata Uang Asia
Selain rupiah, beberapa mata uang Asia lain juga mencatat pergerakan positif.
Baca Juga: Ombudsman Temukan Empat Potensi Maladministrasi Program MBG
Data FactSet menunjukkan won Korea Selatan (USD/KRW) naik tipis 0,1% menjadi 1.403,87, sementara dolar Singapura (USD/SGD) stabil di 1,2883.
Dolar Australia (AUD/USD) bergerak datar di level 0,6609.
Situasi ini menandakan bahwa rupiah bergerak sejalan dengan tren regional, meskipun penguatannya lebih signifikan dibanding beberapa mata uang lain.
Apa Artinya untuk Ekonomi Domestik?
Baca Juga: Bahlil Digugat Gegara BBM Swasta Langka Bareng Pertamina dan Shell, Ini Responsnya!
Penguatan rupiah membawa kabar baik bagi importir dan sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan baku luar negeri.
Namun, kondisi ini juga bisa memberi tekanan bagi eksportir karena harga barang Indonesia di pasar internasional menjadi relatif lebih mahal.
Meski begitu, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Intervensi di pasar valas dilakukan secara terukur agar pergerakan kurs tetap terkendali, sejalan dengan fundamental ekonomi.
Baca Juga: Amicus Curiae Puluhan Guru Besar Dukung Uji Materi dan Batalkan Kepmendikbudristek 63 Tahun 2025
Nilai tukar rupiah hari ini, Kamis, 2 Oktober 2025, kembali menguat ke level Rp16.601 per dolar AS.
Sentimen global terkait ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi motor utama penguatan ini.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sensitif terhadap data ekonomi AS dan kebijakan moneter global.***
Artikel Terkait
Inflasi September 2,65 Persen, Sumut Melonjak, Papua Terkendali
Polemik Rokok Memanas! Purbaya Ungkap Alasan Kebijakan Tak Naikkan Cukai
Vivo dan BP-AKR Batal Beli Minyak Pertamina, Kandungan Etanol 3,5 Persen Jadi Alasan
Asia Tenggara Jadi Kunci Ekspor Kedelai AS, Indonesia Pembeli Terbesar
Fitch Ratings Sebut Penutupan Tambang Freeport Tak Akan Menggerus Profil Kredit secara Material