KONTEKS.CO.ID – Sekitar 250 orang dilaporkan hilang setelah sebuah kapal yang membawa pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh tenggelam di Laut Andaman.
Informasi ini disampaikan badan pengungsi dan migrasi PBB dalam pernyataan bersama, Selasa, kemarin.
Kapal jenis trauler tersebut diketahui mengangkut ratusan penumpang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Baca Juga: Sinergi Telkom dan PGN, Bangun Green Data Center, Dorong Integrasi Digital dan Energi Rendah Karbon
Trauler adalah kapal penangkap ikan dengan pukat tarik besar yang ditebarkan sampai ke dasar laut, atau biasa disebut pukat harimau.
Kapal berangkat dari Teknaf, Bangladesh selatan, dengan tujuan Malaysia.
Namun dalam perjalanan, kapal diduga tenggelam akibat cuaca buruk, gelombang tinggi, serta kelebihan muatan.
Baca Juga: Pemerintah Kejar ‘Akhir Bertahap’ untuk Motor BBM, Industri Diminta Gaspol Listrik
UNHCR dan International Organization for Migration (OIM) menyebut insiden ini sebagai tragedi kemanusiaan yang kembali terulang.
“Tragedi ini menyoroti besarnya biaya kemanusiaan dari pengungsian berkepanjangan serta belum adanya solusi jangka panjang bagi Rohingya,” demikian pernyataan kedua lembaga tersebut.
Selama bertahun-tahun, etnis Rohingya dari Myanmar kerap menempuh perjalanan berbahaya menggunakan kapal kayu seadanya.
Baca Juga: Bukan Teknologi, Indonesia Bisa Sukses Pensiunkan Diesel dengan Replikasi
Mereka berusaha mencapai negara-negara tetangga seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Aksi itu dilakukan untuk menghindari persekusi di tanah asal maupun kondisi kamp pengungsian yang padat di Bangladesh.