nasional

Kementerian UMKM Tegaskan Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Tekanan Ekonomi Global

Kamis, 16 April 2026 | 09:08 WIB
Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana.

 

KONTEKS.CO.ID - Kementerian UMKM menegaskan bahwa penguatan kolaborasi antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan perusahaan besar menjadi kunci dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin tidak menentu.

Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana, menekankan bahwa UMKM harus bertransformasi dari sekadar pelaku ekonomi skala kecil menjadi bagian penting dalam rantai nilai industri nasional.

“Pengusaha UMKM harus masuk dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar dan terhubung langsung dengan industri utama, sehingga mampu tumbuh berkelanjutan,” ujar Reghi dalam seminar nasional yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jakarta, Rabu, 15 April 2026.

Dalam forum tersebut, ia menjelaskan sejumlah strategi kolaborasi yang dapat diperkuat, seperti integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri, penerapan standar kualitas produk secara konsisten, pemanfaatan teknologi digital dan platform e-commerce, serta pengembangan kemitraan industri dengan perusahaan besar.

Baca Juga: Pramono Kocok Ulang 11 Posisi Pejabat DKI, Terapkan Skema Bertahap

Pemerintah, lanjutnya, juga telah menjalankan berbagai program untuk memperkuat ekosistem UMKM agar lebih adaptif, inovatif, dan kompetitif di pasar domestik maupun global.

Program tersebut meliputi fasilitasi sertifikasi usaha dan produk, perluasan akses pasar melalui kurasi dan business matching, pengembangan holding UMKM, peningkatan literasi digital, serta kolaborasi dengan startup untuk menembus pasar internasional.

Reghi juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak luas terhadap rantai pasok energi, perdagangan internasional, serta stabilitas pasar keuangan global.

Meski demikian, ia melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor melalui kerja sama perdagangan internasional. Salah satunya adalah Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang diteken pada 19 Februari 2026.

Baca Juga: Geger Puluhan Ribu Lebah Serbu Kota di Israel, Ramai Dikaitkan dengan Pertanda Buruk

Selain itu, perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement yang ditandatangani pada 23 September 2025 juga membuka peluang penghapusan tarif hingga nol persen untuk berbagai produk ekspor Indonesia.

“Berbagai perjanjian perdagangan ini menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk bagi pengusaha UMKM untuk menembus pasar global. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dan daya saing produk,” kata Reghi.***

Tags

Terkini