Pendapatan ekspor nikel melonjak dari sekitar US6 miliar pada 2013 menjadi hampir US30 miliar pada 2022, disertai penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Namun Frost mengingatkan potensi risiko jangka panjang.
Ketergantungan pada China berpotensi memicu apa yang disebutnya sebagai ‘green extractivism’.
Itu adalah eksploitasi sumber daya besar-besaran demi memenuhi kebutuhan transisi energi global.
“Kontrol China atas keuangan, teknologi, dan pasar menciptakan ketidakseimbangan struktural yang sulit dikoreksi,” tulis Frost.
Risiko ini semakin besar dengan kebijakan baru Amerika Serikat yang memperketat akses insentif pajak bagi entitas asing tertentu.
Dominasi investasi China membuat produsen nikel Indonesia menghadapi tantangan untuk menembus rantai pasok baterai AS.
Menurut Elizabeth Frost, setelah sukses di Indonesia, China hampir pasti akan menerapkan strategi serupa di sektor mineral kritis lain.
Contohnya seperti tembaga di Peru dan kobalt di Republik Demokratik Kongo.***