KONTEKS.CO.ID - Indonesia memainkan peran kunci dalam pasar nikel global, tetapi ekspansi produksi yang agresif justru memperbesar kelebihan pasokan dunia dan menahan kenaikan harga.
Laporan BMI mencatat, meski ada intervensi kebijakan berupa pembatasan kuota tambang, produksi nikel Indonesia tetap tumbuh signifikan dan memperlebar surplus pasar global.
“Indonesia tetap menjadi sumber ketidakpastian terbesar bagi pasar nikel global,” tulis BMI.
Baca Juga: Perang Iran dan Kebijakan Pemerintah Indonesia Dongkrak Harga Nikel, Surplus Global Jadi Rem
Di sisi lain, pertumbuhan permintaan mulai melambat. Konsumsi nikel global diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3 persen pada 2026, turun dari 5,8 persen pada tahun sebelumnya.
Perlambatan ini terjadi di tengah perubahan besar dalam industri baterai.
Adopsi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang lebih murah dan aman terus meningkat, menggantikan teknologi berbasis nikel.
Baca Juga: BMKG Bantah Kemarau 2026 Terparah dalam 30 Tahun, tapi Ingatkan Curah Hujan Akan Lebih Sedikit
“Perubahan komposisi ini akan menahan pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan dari tren energi bersih,” tulis BMI.
Padahal, selama ini permintaan nikel sangat bergantung pada dua sektor utama.
Dua sektor utama itu adalah baja tahan karat dan transisi energi bersih, termasuk kendaraan listrik dan energi terbarukan.
China tetap menjadi motor utama permintaan global, tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, produsen juga menghadapi tekanan biaya energi yang meningkat akibat konflik geopolitik.