Dia mengklaim, defisit APBN juga terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.
Baca Juga: Hasil Penelitian Warning Wabah Penyakit Pes Bakal Bangkit di Indonesia
"Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujarnya.
Sejumlah indikator sosial juga disebut turut menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun 8,25 persen, tingkat pengangguran 4,7 persen, dan rasio gini menurun ke level 0,363. Realisasi investasi sepanjang 2025 juga mampu menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.
Sementara dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang, Airlangga menyebut pemerintah mempercepat program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Adapun sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar USD36,5 miliar, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional.
Dia mengatakan, pemerintah terus memperkuat iklim usaha melalui pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta reformasi regulasi melalui PP No.28/2025.
Baca Juga: KPK Sita Uang USD1 Juta dalam Kasus Kuota Haji, Diduga Bakal Dipakai Yaqut Kondisikan Pansus di DPR
Upaya tersebut mencakup, penyederhanaan perizinan berbasis risiko dan digitalisasi melalui sistem OSS-RBA. Tak hanya itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga terus dikembangkan di sektor strategis seperti manufaktur, hilirisasi mineral, ekonomi digital, pariwisata, dan kesehatan.
Lalu di tingkat global, Indonesia juga disebut mencatat kemajuan kerja sama ekonomi dengan berbagai mitra, termasuk Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia.
RI, lanjutnya, memperkuat peran di forum internasional seperti BRICS, Association of Southeast Asian Nations, Regional Comprehensive Economic Partnership, dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership.
Airlangga juga menegaskan, subsidi energi tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal guna mengantisipasi fluktuasi harga minyak global.
Untuk investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor strategis seperti energi, semikonduktor, dan pusat data.
Baca Juga: Hakim PN Jaksel Terima Gugatan Praperadilan Sekjen DPR Indra Iskandar, Status Tersangka Gugur
"Indonesia memiliki lahan, Indonesia memiliki harga energi yang kompetitif, dan kita juga memiliki energi bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional, termasuk China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," katanya.