Menurut Rektor Universitas Paramadina itu, krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen, dimana kebijakan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah dari produk ini mendapat momentum yang tepat dengan orientasi ekspor sekuat mungkin.
"Indonesia tidak akan bisa lewat 5 persen tingkat pertumbuhannya jika hanya mengandalkan sektor domestik dan pengeluaran pemerintah. Harus percepat hilirisasi nikel, bauksit, kakao, rumput laut, perikanan, CPO dan sebagainya," paparnya.
"Jadi, transformasi tersebut adalah mengungulkan resource based industry, yakni mendorong industrialisasi berbasis SDA (smelter, biofuel, green industry)," imbuhnya.
Bahkan, kebijakan dan strategi transisi energi bisa mendapatkan momentum pada saat krisis ini.
Baca Juga: Prabowo Pamit, Tak Lanjut Lagi Jadi Ketua Umum PB IPSI
"Kita harus membuat kebijakan menggunakan momentum windfall untuk mendanai transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus mengntegrasikan sektor 'winner' ke dalam roadmap green economy," katanya.
Dengan demikian, tambah Didik, krisis harga minyak tidak harus menjadi beban, melainkan dapat menjadi momentum penghematan, efisiensi dan konsolidasi fiskal.
"Akselerasi hiulirisasi dan industrialisasi berbasis SDA juga mendapat momentum yang bagus. Windfall profit juga dapat menjadi sumber pembiayaan transisi energi menuju energi hijau," pungkasnya.***