KONTEKS.CO.ID - Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan keadaan darurat energi nasional pada Selasa 24 Maret 2026.
Deklarasi itu memperingatkan bahwa ada bahaya yang mengancam terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara.
Pengumuman tersebut, yang akan berlaku selama satu tahun, dibuat sebagai tanggapan terhadap perang di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Menurut Ferdinand Marcos Jr. aksi Iran menutup Selat Hormuz telah mengganggu pasar energi, mengganggu rantai pasokan, dan menaikkan harga minyak, menimbulkan ancaman terhadap keamanan energi negara.
Ia menambahkan, sebuah komite telah dibentuk untuk memastikan ketersediaan dan distribusi bahan bakar, makanan, obat-obatan, produk pertanian, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.
Langkah-langkah tersebut termasuk menegakkan langkah-langkah konservasi energi, memperkenalkan subsidi bahan bakar dan inisiatif lain untuk mengurangi biaya transportasi.
Baca Juga: Batas Akhir Visa Umrah 18 April, Arab Saudi Bersiap Musim Haji
Manila juga akan mengambil tindakan terhadap penimbunan, pengambilan keuntungan yang tidak wajar, dan manipulasi pasokan produk minyak bumi.
Marcos juga mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan sebesar 5.000 peso (Rp1,4 juta) kepada pengemudi atau tukang ojek dan pekerja transportasi untuk membantu mengatasi kenaikan biaya bahan bakar.
Program kesejahteraan juga telah diumumkan untuk petani, nelayan, dan pekerja lainnya. ***