ekonomi

Airlangga Ungkap Soal Harga dan Suplai BBM ke RI Imbas Perang AS-Israel ke Iran  

Senin, 2 Maret 2026 | 14:26 WIB
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto soal harga minyak usai perang Iran vs Amerika-Israel (instagram/airlanggahartarto_official)

 

KONTEKS.CO.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara soal harga minyak dunia terkini saat tengah eskalasi perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Airlangga, suplai minyak dunia akan terganggu imbas perang lantaran Selat Hormuz, Iran dan Laut Merah, Arab Saudi juga akan terganggu.

"Supply minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu, belum juga Red Sea (Laut Merah). Jadi, kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlaku," kata Airlangga kepada wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin 2 Maret 2026.

Baca Juga: Istri Gubernur Kaltim 'Slay' Mirip Noni Belanda, Tim Ahli Buka Suara: Gaya Hidup Sultan Sejak Puluhan Tahun

Airlangga mengungkapkan pemerintah telah mempunyai nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) terkait suplai minyak dari non-Timur Tengah.

"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non middle east. Misalnya kemarin, Pertamina sudah bikin MOU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain," sebutnya.

Sementara, terkait kemungkinan impor minyak dari Rusia, Airlangga menyebut akan memantau negara produsen minyak mana saja yang bisa diimpor.

"Tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor," ucapnya.

Airlangga juga menyebutkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi juga akan ikut naik imbas perang Iran dengan AS dan Israel.

Baca Juga: Jadwal dan Venue Piala Asia 2027 Arab Saudi Diumumkan

"Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya," ungkapnya.

Sebelumnya, harga minyak dunia melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada perdagangan Senin 2 Maret 2026 usai AS dan Israel meningkatkan serangan di kawasan Timur Tengah (Timteng).

Eskalasi tersebut merusak sejumlah kapal tanker dan mengganggu pengiriman dari wilayah produsen minyak utama dunia, salah satunya penutupan Selat Hormuz.***

Halaman:

Tags

Terkini