KONTEKS.CO.ID – Pemerintah Indonesia berencana mengalihkan sebagian impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Singapura ke Amerika Serikat.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya efisiensi dan respons terhadap harga impor yang dinilai tidak kompetitif.
Evaluasi Harga BBM dan Logistik yang Tidak Efisien
Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi yang dilakukan, harga beli BBM dari Singapura ternyata setara dengan harga BBM yang diimpor dari negara Timur Tengah. Hal ini mengarah pada keputusan untuk mengalihkan sumber impor ke negara lain.
Baca Juga: Gempa Bumi Megnitudo 6,1 Guncang Yunani, Getarannya Tembus ke Kairo
"Setelah saya cek, harga BBM dari Singapura ternyata hampir sama dengan harga dari negara Timur Tengah. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mempertimbangkan alternatif impor dari negara lain," ujar Bahlil saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Rabu 14 Mei 2025.
Selain itu, Bahlil juga mengungkapkan bahwa proses impor BBM dari Singapura menggunakan kapal-kapal kecil yang dianggap kurang efisien.
Oleh karena itu, pemerintah juga tengah membangun pelabuhan baru yang lebih besar, yang akan memungkinkan pengangkutan BBM menggunakan kapal-kapal besar, meningkatkan efisiensi logistik.
"Kapal-kapal yang digunakan untuk impor dari Singapura biasanya kecil. Untuk itu, kami membangun dermaga besar agar pengangkutan BBM bisa dilakukan dengan kapal yang lebih besar, sehingga proses pengiriman menjadi lebih efisien," jelasnya.
Rencana Mengalihkan Impor ke AS
Sebagai bagian dari rencana tersebut, Indonesia berencana mengalihkan sebagian impor BBM, crude oil, dan LPG dari Singapura ke Amerika Serikat.
Hal ini juga sejalan dengan kesepakatan yang tercapai antara Indonesia dan AS dalam berbagai sektor perdagangan.
"Salah satu hal yang kami tawarkan dalam perjanjian dengan Amerika adalah untuk membeli produk seperti BBM dan crude oil dari mereka. Ini adalah bagian dari strategi untuk memperkuat hubungan dagang kita dengan AS," tambah Bahlil.
Dampak pada Pasar Global dan Industri Energi
Keputusan ini diharapkan dapat mempengaruhi pasar global, khususnya industri pengangkutan tanker yang mungkin akan mengalami perubahan signifikan.