Perwakilan itu juga menambahkan bahwa BYD telah memberikan bantuan kepada Qiancheng dalam menghadapi situasi tersebut. Meski demikian, kebangkrutan ini menyoroti tekanan besar yang tengah melanda pasar otomotif Tiongkok.
Industri otomotif terbesar di dunia ini sedang menghadapi persaingan ketat yang menekan produsen, pemasok, dan jaringan dealer.
Adanya perubahan tren menuju penjualan langsung dan melambatnya daya beli konsumen memperburuk tekanan bagi para dealer.
BYD sendiri masih mengandalkan jaringan dealer dalam pemasarannya di China, meskipun memiliki beberapa toko milik sendiri.
Struktur ini membuat para mitra dealer seperti Qiancheng rentan terhadap gejolak pasar dan kebijakan internal perusahaan.***
Artikel Terkait
Nissan Rugi Rp82,2 T, Bakal PHK 10 Ribu Karyawan di Seluruh Dunia, Imbas Tarif Trump dan BYD?
Reaksi BYD soal Mobil Listrik yang Disebut Terbakar di Jakarta Barat
BYD New Seal 2025 Resmi Diluncurkan di Indonesia, Bawa Teknologi Suspensi Canggih DiSus C
Hasil Investigasi Insiden Mobil Listrik BYD Seal di Jakarta: Bukan Kebakaran Tapi Ini Penyebab Asapnya!