KONTEKS.CO.ID - Konflik sosial yang selama ini dianggap khas manusia ternyata juga terjadi di dunia primata.
Penelitian di Taman Nasional Kibale, Uganda, menunjukkan simpanse dapat terlibat dalam konflik antarkelompok yang menyerupai “perang saudara”.
Dan, ternyata perang saudara itu bisa berdampak pada penurunan populasi secara drastis.
Ahli genetika ekologi Ronny Rachman Noor dari IPB University menjelaskan simpanse merupakan spesies yang sangat dekat dengan manusia, baik secara genetik maupun perilaku.
Baca Juga: Profesor di Unpad Diduga Lecehkan Mahasiswi Pertukaran
“Penelitian menunjukkan manusia berbagi sekitar 98–99 persen DNA dengan simpanse, lebih dekat secara genetis dibanding gorila,” katanya.
“Seperti manusia, simpanse juga memiliki perilaku sosial kompleks seperti empati, kerja sama, hingga konflik terorganisir yang menyerupai perang.”
Fenomena di Kibale menjadi salah satu contoh paling ekstrem.
Baca Juga: Diduga Terima Uang Rp1,5 Miliar, Ketua Ombudsman Hery Susanto Atur Soal PNBP PT TSHI
Komunitas besar Ngogo yang sebelumnya berjumlah sekitar 200 individu terpecah menjadi dua kelompok yang saling bermusuhan, yaitu faksi Barat dan Tengah.
Perpecahan ini dipicu perebutan wilayah dan sumber daya, diperparah hilangnya pejantan tua yang biasanya menjadi penyeimbang struktur sosial.
“Penelitian menunjukkan awal konflik ini dipicu fragmentasi komunitas dan ketidakseimbangan struktur sosial,” kata Ronny.***