“Jadi memang susah sekali, alatnya kecil-kecil badannya melayang-layang,” tambahnya.
Bencana Challenger Meledak
Takdir tak dapat ditolak. Lima bulan menjelang misi, tepatnya pada 28 Januari 1986, pesawat ulang-alik Challenger meledak setelah 73 detik diluncurkan.
Tragedi besar itu pun mengubur mimpi besar Presiden Soeharto mengirimkan warga terbaiknya ke luar angkasa.
Baca Juga: Lika-liku Relasi Benny Mordani dan Ali Moertopo, Dua Raja Intel Kepercayaan Soeharto yang Terhempas
Meluncur dari Bandar Antariksa Kennedy, Florida, Amerika Serikat, Challenger hancur berkeping-keping.
Ledakannya menciptakan bola api raksasa dan kepulan asap putih di udara. Jutaan pasang mata yang menyaksikan secara langsung maupun melalui siaran televisi terdiam tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Penerbangan misi ke-10 Challenger tersebut membunuh tujuh antariksawan, termasuk astronaut yang menjadi peserta program Guru di Luar Angkasa, Christa McAuliffe.
Pil pahit terpaksa diterima Pemerintah Indonesia. Tragedi Challenger membuat NASA mendesain ulang cara kerja serta misi penerbangan berawak ke luar angkasa.
Baca Juga: Operasi Senyap 4 Januari 1946: 'Kereta Malam' Bung Karno dan Hijrahnya Ibu Kota Negara ke Yogyakarta
Badan tersebut mengubah teknis peluncuran pesawat ulang-alik, dan membangun budaya keselamatan dan akuntabilitas terbaru bagi anggota stafnya.
Fatalnya lagi, NASA menyetop program pesawat ulang-aliknya selama 2,5 tahun. Mereka baru meluncurkan misi berawak ke luar angkasa lagi tahun 1988 memanfaatkan varian pesawat ulang-alik yang baru, Namanya Discovery.
Astronaut yang ditunjuk pada misi kebangkitan itu hanya dari kalangan militer.
Krismon dan Penarikan Pratiwi dari NASA
Ledakan Challenger sebenarnya tak membatalkan rencana Indonesia mengirimkan putra-putri terbaiknya ke luar angkasa.