Merujuk keterangan Colin Burgess dalam buku Shattered Dreams: The Lost and Canceled Space Missions, payload specialist terpilih dari Indonesia bakal terbang dengan pesawat ulang-alik Columbia untuk misi STS-61H.
Pesawat ulang-alik ini dijadwalkan takeoff pada Juni 1986.
Setelah pertemuan itu, pada 1 November 1985, Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu menunjuk anggota komite pengarah.
Mereka bertugas menentukan dan mengawasi kriteria seleksi untuk memilih para calo yang paling sesuai untuk peran yang diminta NASA.
Sebulan kemudian, Pemerintah Indonesia secara resmi menerima tawaran AS untuk mengirimkan seorang astronautnya bergabung dalam misi pesawat ulang-alik demi membantu peluncuran satelit .
Seleksi Kandidat Astronaut Pertama Indonesia
Lalu, Komite Pengarah mulai melakukan seleksi terhadap calon astronaut pertama yang terlibat dalam misi misi NASA STS-61H.
Menurut Pratiwi Pujilestari Sudarmono, antariksawan Indonesia nantinya sekaligus akan menjadi saksi langsung peluncuran satelit Palapa B-3 di luar angkasa yang rencananya dibawa oleh pesawat ulang-alik Challenger.
Baca Juga: Pemberontakan Heroik PETA di Hari Valentine, Sebuah Jejak Sunyi Soeprijadi Menuju Misteri Abadi
Pemerintah pada waktu itu merasa ini kesempatan langka. Untuk itu, dicarilah seseorang yang bukan hanya joyriding lalu membuat laporan, tapi juga bisa melakukan penelitian.
Pemerintahan Orde Baru kemudian mengirimkan undangan kepada sekitar 50 universitas yang tersebar dari Sabang sampai Merauke untuk melakukan Indonesian Space Experiment.
“Nah di situlah saya diundang untuk mempresentasikan rencana penelitian, namanya Indonesian Space Experiment (Inspex),” kata dosen Fakultas Kedokteran UI bergelar profesor tersebut, mengutip kanal YouTube SINDOnews di Jakarta, Minggu 12 April 2026.
Dari presentasi yang terkumpul, terpilihlah sekitar 20-an rencana penelitian untuk kemudian tes diuji di NASA. Pengujian lebih kepada apakah memungkinkan dilakukan di pesawat ulang alik.
Di antaranya adalah penelitian dengan jasa terunik. “Itu mungkin barang-barangnya tidak terlalu banyak ya. Tidak memerlukan misalnya ada penelitian memotret Matahari dia memerlukan suatu lensa yang sangat besar gitu ya, tidak bisa dimasukkan ke dalam pesawat ulang alik,” katanya.